Thursday, December 19, 2013

Poros Baru Liverpool FC

Poros Baru di Liverpool FC

Melihat penampilan LFC di pertandingan ke belakang muncul kuartet penting yang sebenarnya saya lebih senang menyebutnya poros baru di lini tengah LFC, mari kesampingkan tentang ke-sakti-an Luis Suarez yang memang sangat berperan besar pada kecemerlangan penampilan LFC. Dengan dimulai absennya Steven Gerrard beberapa pihak mulai mengkhawatirkan penampilan LFC dikarenakan tidak sedikit goal LFC berasal dari “Hollywood Pass” dari Gerrard.



Ada beberapa pihak mengkhawatirkan tetapi ada juga beberapa pihak yang menyebutkan bahwa ini saatnya LFC berlatih bermain tanpa Gerrard yang karier sepakbolanya akan selesai dalam waktu beberapa tahun ini dan saatnya pula Rodgers meramu taktik dan formasi sesuai keinginannya tanpa harus meminggirkan Gerrard.

Poros penting yang terbaru tapi mungkin saja sebenarnya di kepala Rodgers sudah ada sejak lama akhirnya dicoba dalam satu setengah pertandingan terakhir, yang pertama dimulai saat melawan Westham kurang lebih di menit 55-56 pada posisi 2-0 Gerrard ditarik keluar karena cedera digantikan oleh Lucas Leiva, disini mulai terlihat jalannya taktik kaki ke kaki ala Rodgers dengan Lucas-Allen-Coutinho- Henderson sebagai poros utama dalam keseimbangan bertahan dan menyerang.

Mungkin masih dalam keadaan gugup baru akan mulai menerapkan taktik baru (atau terlalu asyik) seakan-akan para pemain terlihat terlalu nafsu dalam menyerang sehingga agak melupakan lini belakang yang akhirnya kecolongan satu goal dari Westham (own goal Skrtel), arah pertandingan agak berubah setelah goal itu, tapi Game Over untuk Westham saat Suarez mencetak goal ketiga dilanjut dengan kartu merah untuk Nolan.


Pada pertandingan selanjutnya melawan Spurs merupakan Big test untuk squad muda LFC (maksudnya dibawah 30 Tahun -CMIIW ) yang bermain tanpa Gerrard, dengan ditunjuknya Suarez sebagai kapten. Pada pertandingan ini poros baru ini menjadi titik pusat dari taktik LFC, Lucas – Allen menjadi penyaring utama dari penyerangan Spurs sebelum masuk ke lini belakang yang dimana mereka melakukan tugas mereka dengan sempurna dengan segala intercept yang dilakukan walau ada beberapa catatan mereka kehilangan bola dan posisi Coutinho-Henderson menjadi awal penyerangan untuk memberikan suplai bola ke lini depan.

Poros ini masih sangat baru dan mungkin masih akan mengalami penampilan turun naik sebagaimana pemain lainnya, yang jelas tetap “Manage Our Expectation” karena LFC masih dalam proses untuk mencapai kesempurnaan. Saya pribadi berharap LFC bisa menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik di musim ini dan musim-musim selanjutnya setelah musim lalu sudah menjadi kepompong yang banyak diterpa badai.

#YNWA


@radya

Wednesday, December 11, 2013

Is it our time to shine?

Sebelumnya ingin menyapa temen-temen dulu yang udah lama ga ketemu, karena beberapa kesibukan baru jadi ya blog amatiran ini terbengkalai. Mari mulai dengan membahas judul diatas “Is it our time to shine?” melihat performa LFC musim ini memang membuat campur aduk para pendukungnya, terkadang LFC tampil gagah perkasa menghajar lawan-lawannya tetapi kadang-kadang pula LFC bisa dihajar oleh tim yang diatas kertas dibawah LFC tapi kita semua tahu itulah sepakbola, tidak semua yang kuat menang.



Melihat penampilan beberapa musim kebelakang tidak dipungkiri jika ini memang musim terbaik LFC, inkonsistensi permainan tidak sebanyak musim-musim lalu yang lebih banyak “terjerembab” oleh tim-tim dibawahnya maupun diatasnya. Tidak sedikit orang yang men-cap LFC sebagai medioker walaupun tidak se-medioker ketika di pegang Roy Hodgson dimana untuk saya pribadi merupakan periode paling buruk ketika menjadi pendukung LFC yang juga mempengaruhi penilaian saya ke performa Rodgers di musim pertama nya.

Ya, nama Brendan Rodgers yang datang membawa filosofi baru dalam LFC walau memang mirip permainan LFC di masa lampau, cara pass and move yang menjanjikan dan yang Rodgers bilang merupakan taktik Death by Football yang meng-agungkan ball possesion dimana membuat pemain lawan kelelahan mengejar bola kemudian “membunuh” lawan dengan mudah.

Pada saat melihat hasil kerja BR di Swansea (walau banyak juga yang bilang yang menanamkan filosofi awal ini adalah Roberto Martinez, BR hanya menyempurnakan dan mengembangkannya) membuat para pendukung LFC optimis dan hasil nyata nya musim pertama Rodgers berhasil membuat LFC “menang” dalam ball possesion tetapi kalah dalam hasil akhir yang jelas banyak pendukung termasuk saya memilih untuk hasil sebaliknya.

Yah kembali ke paragraf awal tadi melewati masa Roy Hodgson membuat rasa optimis saya terkadang berlebihan dengan penyangkalan “Setidaknya masih parah jaman Roy Hodgson” walaupun banyak juga yang mempertanyakan kemampuan BR saat itu dan memang akhirnya di musim pertama BR hasil yang di dapat LFC tidak memuaskan dan bahkan tidak mampu masuk jalur eropa.



Di musim keduanya ini diawali dengan baik ditambah dengan masuknya beberapa amunisi yang cukup mumpuni di mata saya tentu saja Simon Mignolet yang pembelian paling berhasil BR, jika bukan dia entah jadi apa lini belakang LFC dengan adaptasinya beberapa pemain baru di lini belakang.

Beberapa pertandingan awal dilewati dengan baik dengan banyak catatan yang tentu saja disambut gembira pendukung LFC pada umumnya yang menginginkan hasil 3 poin bagaimanapun caranya, tetapi disini yang menjadi bumerang untuk para pendukung LFC, kemenangan di awal musim membuat rasa optimis menjadi sangat berlebihan yang ujungnya menjadi kesombongan padahal target LFC sendiri hanya 4 besar.

Dimulai dari seri melawan Swansea disambung kekalahan melawan Southampton ditambah kekalahan melawan Manyoo di COC walaupun di liga bisa dikalahkan dengan skor yang sama, dengan hasil ini maka dimulai lah permainan yang disebut Roller”Kop”ster, yang dimana bermain sangat perkasa di babak 1 kemudian bertahan jika sudah mendapatkan keunggulan sementara di babak 2.

Penampilan turun naiknya LFC ini memang disebabkan beberapa pemain intinya cedera dan jika BR berkata “Lack of squad depth”, menurut saya hanya masalah adaptasi dari taktik yang terkadang membuat LFC kemasukan dari lawan cukup banyak, BR menginginkan lini tengah LFC bisa memenangkan possesion sebelum menyentuh lini belakang tetapi pada saat lini tengah tertembus maka hanya konsentrasi lini belakang yang jadi tumpuan agar bisa membaca arah bola.

Tetapi di beberapa pertandingan terakhir LFC menunjukan grafik terus menanjak setelah mengalami kekalahan mengejutkan melawan Hull City saya sendiri sempat membuat tweet pada sebelum pertandingan “jika mengalami kekalahan di pertandingan ini maka lupakan soal mendapatkan titel”, dan memang benar LFC kalah dan banyak yang mulai kembali ke darat termasuk saya yang disadarkan oleh seorang teman bahwa target awal “hanya” 4 besar jadi jangan terlalu jumawa selama kita masih pada track untuk menuju 4 besar, mendapatkan titel hanya bonus tambahan.

Jadi “Is it our time to shine?” menurut saya pribadi belum saatnya, tembus dulu Champions League musim depan baru kita mulai bicara perebutan titel, bukan saya cepat puas “hanya” menargetkan LFC di Zona Champion di musim ini tetapi hanya mengutip dari beberapa teman untuk “manage our expectation”, jika memang kenyataan nya juara itu saya anggap hanya bonus untuk kerja keras seluruh komponen di LFC termasuk supporter yang sudah mendukung LFC.


Keep Support LFC and #YNWA