Sebelumnya ingin menyapa temen-temen
dulu yang udah lama ga ketemu, karena beberapa kesibukan baru jadi ya
blog amatiran ini terbengkalai. Mari mulai dengan membahas judul
diatas “Is it our time to shine?” melihat performa LFC musim ini
memang membuat campur aduk para pendukungnya, terkadang LFC tampil
gagah perkasa menghajar lawan-lawannya tetapi kadang-kadang pula LFC
bisa dihajar oleh tim yang diatas kertas dibawah LFC tapi kita semua
tahu itulah sepakbola, tidak semua yang kuat menang.
Melihat penampilan beberapa musim
kebelakang tidak dipungkiri jika ini memang musim terbaik LFC,
inkonsistensi permainan tidak sebanyak musim-musim lalu yang lebih
banyak “terjerembab” oleh tim-tim dibawahnya maupun diatasnya.
Tidak sedikit orang yang men-cap LFC sebagai medioker walaupun tidak
se-medioker ketika di pegang Roy Hodgson dimana untuk saya pribadi
merupakan periode paling buruk ketika menjadi pendukung LFC yang juga
mempengaruhi penilaian saya ke performa Rodgers di musim pertama nya.
Ya, nama Brendan Rodgers yang datang
membawa filosofi baru dalam LFC walau memang mirip permainan LFC di
masa lampau, cara pass and move yang menjanjikan dan yang Rodgers
bilang merupakan taktik Death by Football yang meng-agungkan ball
possesion dimana membuat pemain lawan kelelahan mengejar bola
kemudian “membunuh” lawan dengan mudah.
Pada saat melihat hasil kerja BR di
Swansea (walau banyak juga yang bilang yang menanamkan filosofi awal
ini adalah Roberto Martinez, BR hanya menyempurnakan dan
mengembangkannya) membuat para pendukung LFC optimis dan hasil nyata
nya musim pertama Rodgers berhasil membuat LFC “menang” dalam
ball possesion tetapi kalah dalam hasil akhir yang jelas banyak
pendukung termasuk saya memilih untuk hasil sebaliknya.
Yah kembali ke paragraf awal tadi
melewati masa Roy Hodgson membuat rasa optimis saya terkadang
berlebihan dengan penyangkalan “Setidaknya masih parah jaman Roy
Hodgson” walaupun banyak juga yang mempertanyakan kemampuan BR saat
itu dan memang akhirnya di musim pertama BR hasil yang di dapat LFC
tidak memuaskan dan bahkan tidak mampu masuk jalur eropa.
Di musim keduanya ini diawali dengan
baik ditambah dengan masuknya beberapa amunisi yang cukup mumpuni di
mata saya tentu saja Simon Mignolet yang pembelian paling berhasil
BR, jika bukan dia entah jadi apa lini belakang LFC dengan
adaptasinya beberapa pemain baru di lini belakang.
Beberapa pertandingan awal dilewati
dengan baik dengan banyak catatan yang tentu saja disambut gembira
pendukung LFC pada umumnya yang menginginkan hasil 3 poin
bagaimanapun caranya, tetapi disini yang menjadi bumerang untuk para
pendukung LFC, kemenangan di awal musim membuat rasa optimis menjadi
sangat berlebihan yang ujungnya menjadi kesombongan padahal target
LFC sendiri hanya 4 besar.
Dimulai dari seri melawan Swansea
disambung kekalahan melawan Southampton ditambah kekalahan melawan
Manyoo di COC walaupun di liga bisa dikalahkan dengan skor yang sama,
dengan hasil ini maka dimulai lah permainan yang disebut
Roller”Kop”ster, yang dimana bermain sangat perkasa di babak 1
kemudian bertahan jika sudah mendapatkan keunggulan sementara di
babak 2.
Penampilan turun naiknya LFC ini memang
disebabkan beberapa pemain intinya cedera dan jika BR berkata “Lack
of squad depth”, menurut saya hanya masalah adaptasi dari taktik
yang terkadang membuat LFC kemasukan dari lawan cukup banyak, BR
menginginkan lini tengah LFC bisa memenangkan possesion sebelum
menyentuh lini belakang tetapi pada saat lini tengah tertembus maka
hanya konsentrasi lini belakang yang jadi tumpuan agar bisa membaca
arah bola.
Tetapi di beberapa pertandingan
terakhir LFC menunjukan grafik terus menanjak setelah mengalami
kekalahan mengejutkan melawan Hull City saya sendiri sempat membuat
tweet pada sebelum pertandingan “jika mengalami kekalahan di
pertandingan ini maka lupakan soal mendapatkan titel”, dan memang
benar LFC kalah dan banyak yang mulai kembali ke darat termasuk saya
yang disadarkan oleh seorang teman bahwa target awal “hanya” 4
besar jadi jangan terlalu jumawa selama kita masih pada track untuk
menuju 4 besar, mendapatkan titel hanya bonus tambahan.
Jadi “Is it our time to shine?”
menurut saya pribadi belum saatnya, tembus dulu Champions League
musim depan baru kita mulai bicara perebutan titel, bukan saya cepat puas
“hanya” menargetkan LFC di Zona Champion di musim ini tetapi hanya mengutip
dari beberapa teman untuk “manage our expectation”, jika memang
kenyataan nya juara itu saya anggap hanya bonus untuk kerja keras
seluruh komponen di LFC termasuk supporter yang sudah mendukung LFC.
Keep Support LFC and #YNWA
No comments:
Post a Comment