Thursday, March 27, 2014

Last Salute From a Hero

Last Salute From a Hero

Steven Gerrard ya Steven Gerrard seorang pangeran dari Liverpool FC.. Banyak orang yang menyangka karirnya akan segera habis yah termasuk saya yang sempat menyinggung sedikit di beberapa artikel sebelumnya, tetapi sang pangeran belum mau menyerah untuk menyerahkan mahkotanya dengan mudah, dengan bantuan Brendan Rodgers sang pangeran menjelma menjadi seseorang yang baru di posisi nya yang baru.

Perubahan posisi dari yang sebelumnya bergerak lebih banyak di zona penyerangan sekarang berubah menjadi lebih banyak beroperasi di zona pertahanan tetapi tidak menghilangkan ciri khas “Hollywood Pass” miliknya, berhasil membuat SG “hidup kembali” di lapangan, menjadi pelapis para Wing Back yang terkadang sering lupa mundur saat maju ke depan.

Perlahan tapi pasti SG menjadi penjaga gerbang pertama sebelum mencapai lini pertahanan LFC bersama Allen atau Lucas. Penampilan ini jelas terlihat pada saat pertandingan melawan Man Utd menjadi pelapis yang baik untuk flano yang dimana kata teman saya seperti kakak yang menjaga adiknya dengan baik.

Dengan umurnya yang tidak muda lagi, lagi-lagi mungkin karena motivasi dari Brendan Rodgers  yang membuat SG nyaman di posisinya sekarang padahal pada awal menjalani posisi ini SG sempat tidak percaya diri menjalankan nya yang jika saya tidak salah ingat LFC mengalami kekalahan pada saat melawan Hull City yang dengan segera SG menyatakan jika posisi yang dilakukannya tidak begitu nyaman.


Tetapi mungkin memang bukan jiwa seorang kapten jika akan menyerah begitu saja ditambah juga mempunyai manager yang banyak orang menyebut mempunyai man management baik yang bisa memberikan motivasi dan kepercayaan diri untuk para pemain LFC.

Penampilan apik SG ini mungkin juga termotivasi dengan menanjaknya penampilan LFC dan bangkitnya para punggawa muda LFC, SG tetap menjadi pemimpin yang tidak tergantikan di lapangan ditambah besarnya kemungkinan LFC untuk bersaing bahkan merebut trophy yang paling dia idamkan selain piala dunia yaitu Gelar Premier League untuk pertama kalinya bagi LFC di penghujung karirnya, gelar yang akan melengkapi CV nya sebagai pemain bola pada umumnya dan LFC khususnya.


Menang atau tidaknya LFC di premier league musim ini, khususnya pendukung LFC sudah diberikan penampilan atraktif dari punggawa LFC yang dipimpin oleh SG dan menyaksikan bagaimana seorang pahlawan bertransformasi demi mempersembahkan gelar yang dia paling ingin didapatkan untuk klub yang dia cintai dan mungkin menjadi penghormatan terakhir untuk mendapatkan gelar yang paling ditunggu LFC di era Premier League dari sang pahlawan.

Dear Steven Gerrard,

All my pray and hope for you and the rest of LFC Team.. Win or Lose this season.. Me personally give thanks to all LFC Team for this great season you gave to us as Liverpool Supporter.
#YNWA

Regards,
@radya

Saturday, March 22, 2014

Am I Dare To Dream?

Am I Dare To Dream?

Pada beberapa artikel sebelum ini saya pernah menulis apa target untuk LFC tetep di empat besar atau berani bermimpi untuk menuntaskan puasa gelar yang sudah 20 tahun lebih tidak mampir ke Anfield.. Ternyata kita semua memang harus mengakui bahwa penampilan LFC sangat di atas rata-rata ini membuat beberapa pro dan kontra yang menarik di dunia “twitter” sedang hangat dibicarakan yang terbagi menjadi 3 kubu antara realis, pesimis, dan optimis di dalam suporter LFC sendiri (di Indonesia khususnya) di luar saya pun tidak mengerti apakah ada perdebatan soal ini.

Tidak terlepas dari paragraf diatas, saya pribadi memberanikan diri untuk menyebrang dari sisi realis menjadi sisi optimis dengan segala resiko yang akan timbul, dengan penampilan LFC yang sangat bila bisa dibilang luar biasa, melihat LFC menggetarkan gawang lawan lebih dari satu kali dalam pertandingan, melihat Anfield menjadi benteng yang menakutkan seperti jaman kejayaan LFC jaman yang sudah lama berlalu yang bahkan mungkin saya pun tidak pernah merasakannya, melihat para penantang juara mulai waspada akan hadirnya LFC, This is where we belong, we're already struggle for a long time for this and this time a good timing to finish it with style.




Keberanian saya tidak terlepas dengan adanya sosok Brendan Rodgers yang sempat juga saya tulis di artikel banyak orang yang meragukan kemampuannya di LFC apalagi dia “hanya” lulusan Swansea. Saya yakin bukan saya saja yang menjadi yakin karena adanya sosok BR ini, hanya lulusan Swansea dan sekarang dia mempunyai kesempatan untuk menjadi legenda di LFC jika BR bisa membawa LFC kembali ke tempat yang seharusnya.



Saya selalu terkesan dengan setiap wawancaranya dan beberapa kawan saya ada juga yang berpikir sebaliknya bahwa BR ini terlalu senang berbicara kepada Pers, tapi menurut saya setiap wawancara yang dilakukan oleh BR untuk meringankan beban para pemain LFC, jika kalah BR tidak menyalahkan pemainnya tetapi menyalahkan taktiknya, jika menang dia memuji habis pemainnya dan yang paling menarik jika ditanya soal perebutan gelar juara BR selalu merendah untuk melepaskan beban dari pemainnya.

Kembali ke judul diatas bahwa saya yakin bukan saya saja yang mulai berpikir dari kubu realis ke kubu optimis di dunia twitter pun banyak beredar tagar Make Us Dream dan di pertandingan terakhir melawan Manch saya melihat ada banner bertulisan Make Us Dream. Jadi akhir kata dalam artikel ini saya menegaskan bahwa berhasil atau tidaknya LFC menjuarai Premiership League LFC tetap menjadi juara hati saya pribadi sama seperti di musim-musim sebelumnya. So The Answer Yes I Choose Dare To Dream.



Dear Brendan Rodgers, Is It Our Dream is Your Reality? If It Is Yes Please Wake Us Up and Bring Us To Your Reality..

Regards,

@radya