Monday, June 23, 2014

Sequel Cerita El Conejo

Luis Suarez yang sering juga dijuluki dengan El Conejo (Sang Kelinci) atau El Pistolero (Sang Penembak), Nama yang selalu menjadi favorit perbincangan para pencari berita. Pemain jenius yang juga mempunyai perangai yang unik, selalu dicintai oleh fans dari klub yang dibelanya dan selalu menjadi sasaran empuk untuk para media dan supporter lawan yang hampir selalu memilih berita miringnya daripada kejeneniusannya di atas lapangan hijau.



Tapi semua berubah semenjak Suarez menyelesaikan hukumannya atas tindakannya yang menggigit lengan bek Chelsea Ivanovic, Suarez menjadi pemain yang hampir tanpa cela di dalam maupun di luar lapangan hijau. Suarez tidak lagi menjadi pemain yang kontroversial, yang tersisa hanya kejeniusan nya dalam lapangan hijau. Tidak ada lagi yang bisa diangkat oleh media tentang kejelekannya mereka “dipaksa” untuk menulis berita Suarez yang cemerlang.

Suarez bukan lagi menjadi pemain yang merengek untuk keluar dari klub, Suarez menjadi pemain yang diidam-idamkan setiap klub untuk bermain untuk mereka, setiap supporter lawan pun pasti mengharapkan Suarez bergabung dengan tim kesayangan mereka. Tetapi Suarez masih bermain untuk LFC masih mempunyai kontrak panjang dengan klub yang baru mengikatnya dengan kontrak baru.



Beberapa hari lalu pertandingan Inggris melawan Uruguay di piala dunia digelar, Uruguay menjadi pemenang dan yang menjadi aktor nya adalah The One and Only Luis Suarez, pemain yang dulu selalu dihujat oleh media inggris, ya pemain yang menjadi aktor “antagonis” di media inggris benar-benar menendang Inggris keluar dari Piala Dunia dan seperti menuntaskan dendam kepada media inggris yang selalu memojokannya, What a sweet revenge for him.

Sampai hari ini Luis Suarez masih menjadi pemain LFC, ada sebagian supporter LFC yang mulai khawatir tentang masa depan Luis Suarez di LFC karena goalnya yang membuat Inggris tersingkir, tetapi mungkin bagi Suarez ini bukan suatu masalah selama fans LFC masih tetap dibelakangnya dan ya para pendukung LFC di inggris khususnya di kota Liverpool mungkin tidak terlalu kecewa dengan kekalahan inggris karena di timeline banyak beredar tagar #ScouseNotEnglish .



Di timeline pun banyak yang mempertanyakan apakah dia tidak takut akan kariernya di inggris habis karena goal dan selebrasi nya setelah mencetak goal melawan Inggris kemarin, Luis Suarez memang pemain Profesional yang bermain di Inggris tapi jangan tanyakan dia soal kecintaannya kepada negara nya. Di pertandingan kemarin dia dihadapkan pilihan yang sudah jelas jawabannya, dia mencetak goal, memenangkan negaranya dan bersiap untuk menghadapi badai kritik di media inggris sekembalinya dia ke inggris atau menyelesaikan tugasnya sebagai warga negara membela negaranya di lapangan hijau tanpa mementingkan konsekuensinya. 

Jawabannya sudah jelas dia teriakan di pertandingan kemarin, dia tentu saja memilih negaranya yang dia cinta dan bersiap menghadapi badai kritikan sesampainya kembali ke Inggris. Dia merupakan pahlawan di negaranya dan setiap pemain pasti ingin menjadi pahlawan bagi negaranya, tidak banyak orang yang bersedia untuk dihujat oleh dunia sepakbola agar negara nya sukses melaju ke babak selanjutnya.




Pertandingan kemarin tidak selesai hanya di lapangan hijau, babak baru tentang transfer Suarez merebak lagi dan tentu saja bagi media ini merupakan daging yang empuk untuk di santap. Luis Suarez mulai disangkutkan kembali kepada Real Madrid dan Barcelona, tentu saja lupakan Arsenal dan Man Utd yang juga berminat untuk dapatkan jasanya. Tetapi Suarez masih menjadi pemain LFC sang pemain pun masih tidak mau untuk berpusing-pusing untuk memikirkan tawaran yang datang sebelum piala dunia usai, yang menarik mari lihat akhir dari lanjutan dari cerita dari El Conejo di musim transfer setelah piala dunia.

Dear Luis,

You did great in your last match againts England, the media wouldn't stop to bothering you after this World Cup. We're LFC Fans will always behind you to support you and your family, we're always grateful that you choose LFC as your club. You give us a lot of joy and song about you to sing.

Apart from your choose in this transfer window, we wish you have a great career and it would be an honour for us if you choose to stay with us and watching you become a legend. I know exactly that no one bigger than the club but you also knew that you won't find another support like we did all these time when you through hard time in your career in England.

All the best Luis..

Monday, June 2, 2014

Welcome Home Scouse Boy!

Welcome Home Scouse Boy!

Kalimat pertama yang saya ucapkan di twitter pada saat transfer Rickie Lambert sudah 99% hampir rampung, hanya tinggal menunggu foto “nyender” dan mengangkat Scarf seperti para pemain lain yang baru masuk. Sebenarnya sebelum berita transfer Lambert menyeruak ke permukaan, saya hanya mengetahui Lambert merupakan supporter Liverpool dan tidak mengetahui lebih lanjut soal Lambert ini.



Pada saat berita transfer soal Lambert ini mulai kencang dan banyak yang komentar bahwa ini under radar dari para pemerhati transfer, baru saya mulai mencari tahu lebih lanjut soal Rickie Lambert ini, ternyata banyak hal yang masih luput dari perhatian saya, dari dimulainya karier sepakbolanya di sekolah sepakbola milik LFC di umur 10 Tahun dan pada 15 Tahun dia dilepas dikarenakan menurut pelatihnya saat itu dia tidak cukup baik untuk bermain di LFC, menurut Lambert sendiri hal itu merupakan pukulan keras pada saat itu.



Selepas dari LFC dia bermain di divisi bawah Liga Inggris bahkan kabarnya dia sempat menjadi buruh untuk menyambung hidup sebelum dia memutuskan kembali ke lapangan hijau lagi, memang jiwa seorang yang kuat harus belajar dari pelajaran yang sulit, sempat bermain di divisi bawah mengasah kemampuannya yang mana diakui olehnya itu merupakan hal yang sulit bermain di kasta bawah untuk pemain seumurnya waktu itu.

Setelah beberapa saat melanglang buana ke berbagai klub, Semua mulai berubah pada Lambert bermain di Southampton, Soton yang memulai dari League One pada saat Lambert masuk, perlahan mulai naik ke divisi atasnya sampai saat ini menjadi klub papan tengah di Liga Premier Inggris, nama Lambert mulai terdengar dikarenakan garangnya di depan gawang lawan. Bahkan LFC sendiri merasakan dibobol gawangnya pada saat mengalami kekalahan di kandang di musim ini.



Mulai dipanggil ke timnas inggris karena penampilan mengkilapnya, membuatnya tidak terlihat sombong dia tetap menyatakan semua merupakan kerjasama tim yang membuat dia sampai di titik ini. pemain yang sudah memasuki umur menjelang senja disepakbola dikagetkan dengan sebuah tawaran yang dia sangka tidak pernah akan datang di hidupnya, tawaran yang diimpikannya waktu dia masih bocah, tawaran untuk berdiri di dalam stadion yang paling dia idamkan, bermain di depan Supporter yang dimana semenjak kecil dia berada di dalamnya.

LFC dengan resmi mengontak agen dari Lambert, apakah pemainnya ingin bermain bersama LFC?, Lambert sendiri pada saat diberitahu oleh Agennya tidak percaya bahkan menuduh agennya berbohong, mungkin dia berpikir tawaran itu terlalu indah bahkan hanya untuk dibayangkan. Tetapi tawaran itu nyata, tawaran impian yang menurut dia terlalu indah itu datang, pada salah satu wawancara dengan media di mengatakan dia tidak berpikir dua kali untuk mengatakan ya pada tawaran dari LFC.

Pemain yang dianggap tidak cukup baik waktu muda oleh LFC, termotivasi dari penolakan menjadi pemain yang penting bagi klub-klub yang dibelanya, semoga saja ini menjadi akhir yang indah bagi Lambert di penghujung karirnya, mengakhiri karirnya di klub impiannya. Bahkan post istrinya di facebook yang bilang “We're Going Home” dan langsung dihapus tidak lama berselang. Pulang ke rumahnya, kembali ke klub pujaannya semenjak kecil, menuntaskan mimpinya untuk mencetak goal di depan The Kop. Good Luck Rickie!

Dear Rickie,

You've been through long and winding road to reach what you have now, we've proud to have you in LFC. A true Scouser and true Red, never give up on your dream even it's not an easy way to do. Your story teach young player not to give up easily on their dream. You show them if you hard enough to try, they could make their own story.


So Welcome Home Scouse Boy!