Welcome Home Scouse Boy!
Kalimat pertama yang saya ucapkan di
twitter pada saat transfer Rickie Lambert sudah 99% hampir rampung,
hanya tinggal menunggu foto “nyender” dan mengangkat Scarf
seperti para pemain lain yang baru masuk. Sebenarnya sebelum berita
transfer Lambert menyeruak ke permukaan, saya hanya mengetahui
Lambert merupakan supporter Liverpool dan tidak mengetahui lebih
lanjut soal Lambert ini.
Pada saat berita transfer soal Lambert
ini mulai kencang dan banyak yang komentar bahwa ini under radar dari
para pemerhati transfer, baru saya mulai mencari tahu lebih lanjut
soal Rickie Lambert ini, ternyata banyak hal yang masih luput dari
perhatian saya, dari dimulainya karier sepakbolanya di sekolah
sepakbola milik LFC di umur 10 Tahun dan pada 15 Tahun dia dilepas
dikarenakan menurut pelatihnya saat itu dia tidak cukup baik untuk
bermain di LFC, menurut Lambert sendiri hal itu merupakan pukulan
keras pada saat itu.
Selepas dari LFC dia bermain di divisi
bawah Liga Inggris bahkan kabarnya dia sempat menjadi buruh untuk
menyambung hidup sebelum dia memutuskan kembali ke lapangan hijau
lagi, memang jiwa seorang yang kuat harus belajar dari pelajaran yang
sulit, sempat bermain di divisi bawah mengasah kemampuannya yang mana
diakui olehnya itu merupakan hal yang sulit bermain di kasta bawah
untuk pemain seumurnya waktu itu.
Setelah beberapa saat melanglang buana
ke berbagai klub, Semua mulai berubah pada Lambert bermain di
Southampton, Soton yang memulai dari League One pada saat Lambert
masuk, perlahan mulai naik ke divisi atasnya sampai saat ini menjadi
klub papan tengah di Liga Premier Inggris, nama Lambert mulai
terdengar dikarenakan garangnya di depan gawang lawan. Bahkan LFC
sendiri merasakan dibobol gawangnya pada saat mengalami kekalahan di
kandang di musim ini.
Mulai dipanggil ke timnas inggris
karena penampilan mengkilapnya, membuatnya tidak terlihat sombong dia
tetap menyatakan semua merupakan kerjasama tim yang membuat dia
sampai di titik ini. pemain yang sudah memasuki umur menjelang senja
disepakbola dikagetkan dengan sebuah tawaran yang dia sangka tidak
pernah akan datang di hidupnya, tawaran yang diimpikannya waktu dia
masih bocah, tawaran untuk berdiri di dalam stadion yang paling dia
idamkan, bermain di depan Supporter yang dimana semenjak kecil dia berada di dalamnya.
LFC dengan resmi mengontak agen dari
Lambert, apakah pemainnya ingin bermain bersama LFC?, Lambert sendiri
pada saat diberitahu oleh Agennya tidak percaya bahkan menuduh
agennya berbohong, mungkin dia berpikir tawaran itu terlalu indah
bahkan hanya untuk dibayangkan. Tetapi tawaran itu nyata, tawaran
impian yang menurut dia terlalu indah itu datang, pada salah satu
wawancara dengan media di mengatakan dia tidak berpikir dua kali
untuk mengatakan ya pada tawaran dari LFC.
Pemain yang dianggap tidak cukup baik
waktu muda oleh LFC, termotivasi dari penolakan menjadi pemain yang
penting bagi klub-klub yang dibelanya, semoga saja ini menjadi akhir
yang indah bagi Lambert di penghujung karirnya, mengakhiri karirnya
di klub impiannya. Bahkan post istrinya di facebook yang bilang
“We're Going Home” dan langsung dihapus tidak lama berselang.
Pulang ke rumahnya, kembali ke klub pujaannya semenjak kecil,
menuntaskan mimpinya untuk mencetak goal di depan The Kop. Good Luck Rickie!
Dear Rickie,
You've been through long and winding
road to reach what you have now, we've proud to have you in LFC. A
true Scouser and true Red, never give up on your dream even it's not
an easy way to do. Your story teach young player not to give up
easily on their dream. You show them if you hard enough to try, they
could make their own story.
So Welcome Home Scouse Boy!
No comments:
Post a Comment