Monday, June 2, 2014

Welcome Home Scouse Boy!

Welcome Home Scouse Boy!

Kalimat pertama yang saya ucapkan di twitter pada saat transfer Rickie Lambert sudah 99% hampir rampung, hanya tinggal menunggu foto “nyender” dan mengangkat Scarf seperti para pemain lain yang baru masuk. Sebenarnya sebelum berita transfer Lambert menyeruak ke permukaan, saya hanya mengetahui Lambert merupakan supporter Liverpool dan tidak mengetahui lebih lanjut soal Lambert ini.



Pada saat berita transfer soal Lambert ini mulai kencang dan banyak yang komentar bahwa ini under radar dari para pemerhati transfer, baru saya mulai mencari tahu lebih lanjut soal Rickie Lambert ini, ternyata banyak hal yang masih luput dari perhatian saya, dari dimulainya karier sepakbolanya di sekolah sepakbola milik LFC di umur 10 Tahun dan pada 15 Tahun dia dilepas dikarenakan menurut pelatihnya saat itu dia tidak cukup baik untuk bermain di LFC, menurut Lambert sendiri hal itu merupakan pukulan keras pada saat itu.



Selepas dari LFC dia bermain di divisi bawah Liga Inggris bahkan kabarnya dia sempat menjadi buruh untuk menyambung hidup sebelum dia memutuskan kembali ke lapangan hijau lagi, memang jiwa seorang yang kuat harus belajar dari pelajaran yang sulit, sempat bermain di divisi bawah mengasah kemampuannya yang mana diakui olehnya itu merupakan hal yang sulit bermain di kasta bawah untuk pemain seumurnya waktu itu.

Setelah beberapa saat melanglang buana ke berbagai klub, Semua mulai berubah pada Lambert bermain di Southampton, Soton yang memulai dari League One pada saat Lambert masuk, perlahan mulai naik ke divisi atasnya sampai saat ini menjadi klub papan tengah di Liga Premier Inggris, nama Lambert mulai terdengar dikarenakan garangnya di depan gawang lawan. Bahkan LFC sendiri merasakan dibobol gawangnya pada saat mengalami kekalahan di kandang di musim ini.



Mulai dipanggil ke timnas inggris karena penampilan mengkilapnya, membuatnya tidak terlihat sombong dia tetap menyatakan semua merupakan kerjasama tim yang membuat dia sampai di titik ini. pemain yang sudah memasuki umur menjelang senja disepakbola dikagetkan dengan sebuah tawaran yang dia sangka tidak pernah akan datang di hidupnya, tawaran yang diimpikannya waktu dia masih bocah, tawaran untuk berdiri di dalam stadion yang paling dia idamkan, bermain di depan Supporter yang dimana semenjak kecil dia berada di dalamnya.

LFC dengan resmi mengontak agen dari Lambert, apakah pemainnya ingin bermain bersama LFC?, Lambert sendiri pada saat diberitahu oleh Agennya tidak percaya bahkan menuduh agennya berbohong, mungkin dia berpikir tawaran itu terlalu indah bahkan hanya untuk dibayangkan. Tetapi tawaran itu nyata, tawaran impian yang menurut dia terlalu indah itu datang, pada salah satu wawancara dengan media di mengatakan dia tidak berpikir dua kali untuk mengatakan ya pada tawaran dari LFC.

Pemain yang dianggap tidak cukup baik waktu muda oleh LFC, termotivasi dari penolakan menjadi pemain yang penting bagi klub-klub yang dibelanya, semoga saja ini menjadi akhir yang indah bagi Lambert di penghujung karirnya, mengakhiri karirnya di klub impiannya. Bahkan post istrinya di facebook yang bilang “We're Going Home” dan langsung dihapus tidak lama berselang. Pulang ke rumahnya, kembali ke klub pujaannya semenjak kecil, menuntaskan mimpinya untuk mencetak goal di depan The Kop. Good Luck Rickie!

Dear Rickie,

You've been through long and winding road to reach what you have now, we've proud to have you in LFC. A true Scouser and true Red, never give up on your dream even it's not an easy way to do. Your story teach young player not to give up easily on their dream. You show them if you hard enough to try, they could make their own story.


So Welcome Home Scouse Boy!

No comments:

Post a Comment