The Power of PHP
PHP atau pemberi harapan
palsu kata yang sedang “hits” beberapa tahun belakangan ini,
sepertinya jika dilihat dari sudut pandang pribadi dalam soal
sepakbola mungkin yang paling mengerti soal ini adalah pendukung LFC.
Setelah akhir musim lalu dengan melesetnya target yang di depan mata,
awal musim yang sangat ditunggu-tunggu, hingga akhir musim yang
menyisakan empat pertandingan ini, pendukung LFC tidak diberi nafas
untuk bisa menerima kenyataan yang terjadi. PHP terus saja terjadi
entah dari klub sendiri maupun dari klub Rival yang memperebutkan
posisi empat besar.
Jujur saja setelah
kekalahan melawan Hull City beberapa hari lalu, saya pribadi sudah
terima apapun hasil akhir musim nanti bahkan sebagian hati sudah
menyerah mendukung Brendan Rodgers. Tetapi ada kejadian yang membuat
kejadian yang berpotensi menjadi PHP datang kembali. Rival terdekat
LFC, Man Utd tersandung oleh West Brom. Secara tidak langsung membuat
perasaan di hati ini kembali ke jarum optimis lagi setelah jarum
indikator hampir menunjuk ke titik pesimis total.
Memang sebenarnya PHP ini
bukan salah LFC ataupun klub lainnya, jika hati sudah menyerahkan
apapun hasil musim ini harusnya sudah diteguhkan dan jangan berpindah
lagi. Tetapi apa? Layaknya orang yang mencintai seseorang, sebanyak
apapun disakiti dan dikecewakan jika ada jalan untuk mencintai
kembali pasti akan di lakukan. Mungkin ada benarnya kutipan lama yang
berbunyi “Bung jika ini memang cinta sejati pasti akan banyak
rintangan”.
Kutipan yang lagi-lagi
bisa dibilang pas jika dikaitkan kepada pendukung LFC. 25 Tahun sudah
terlewat dari terakhir kali mengangkat gelar kampiun liga dan 10
Tahun dari final fenomenal di Istanbul. Tetapi pendukung LFC bukannya
semakin sedikit tetapi malah semakin banyak yang awalnya saya pun
tidak mengerti kenapa ada fenomena tersebut, padahal jika berkaca
kepada diri sendiri mungkin teman-teman saya yang merupakan supporter
tim lain akan bingung kenapa saya masih setia mendukung LFC yang
jawabannya baru saya temukan akhir-akhir ini melalui artikel di salah
satu blog tentang sepakbola.
Tetapi ya itu, mereka
(Supporter tim lain) tidak akan pernah mengerti kebanggaan yang para
pendukung LFC miliki. Walaupun kerap terkena PHP tetapi tetap saja
pada saat LFC turun ke lapangan tetap ditonton minimal berharap LFC
memenangkan pertandingan. Mungkin pada saat kondisi tim sekarang
banyak silang pendapat dan malah mungkin terbagi menjadi kubu-kubu.
Tetapi itulah indahnya para pendukung mencintai klub dengan caranya
sendiri-sendiri.
Mungkin saja PHP akan
datang lagi di akhir musim ini, tetapi ya perset*n lah dengan itu
jika itu terjadi toh musim depan kami akan tetap memiliki harapan yang sama
dan mungkin sebenarnya bukan salah LFC yang selalu melakukan PHP, tetapi dari diri pendukung mereka sendiri yang memilih untuk
berharap. Toh apalah arti menunggu satu tahun lagi saya pribadi sudah
menunggu kurang lebih 15 tahun.
So it's your call to manage your
expectation or ready to feel the heartbreak once more?
Me personally I've never succeed to
manage my expectation so I choose the second one..
Pic Courtesy:
No comments:
Post a Comment