Seantero pendukung
Liverpool FC pasti sangat mengenal nama Dejan Lovren, entah mungkin
karena harga nya yang selangit atau kesalahan terbanyak di lini
belakang LFC. Hampir tidak ada kalimat yang baik yang keluar dari
pendukung LFC, mungkin hanya segelintir yang masih optimis terhadap
karirnya di LFC, sisanya mungkin lebih kearah menghujat jika dia
turun di lapangan. Memang stats penampilannya di LFC terbilang
jeblok, banyaknya kesalahan yang dilakukan membuat Lovren menjadi
sasaran empuk sebagai kambing hitam kekalahan maupun kesalahan.
Yang paling baru adalah
kegagalannya mengeksekusi penalti di Europa League dan menyebabkan
LFC tersingkir di ajang ini, kebanyakan suporter LFC langsung
menunjuk telunjuknya ke hidung Lovren. Tragis memang kesalahan
seluruh tim dibebankan ke pundak satu orang, mental Lovren saat itu
pasti hancur berantakan. Pada saat dia sedang menjadi sorotan pada
penampilannya dia harus menambah beban lagi menjadi algojo kelima di
drama adu penalti.Secara keseluruhan penampilan LFC sebagai tim bisa
dibilang buruk dan seharusnya seluruh kesalahan tidak dibebankan
kepada satu pemain saja.
Cerita Lovren ini
bukanlah pertama kali terjadi di LFC, Lucas Leiva dan Jordan
Henderson adalah dua nama yang punya cerita tersendiri soal
penghujatan pada awal karirnya di LFC. Jordan Henderson masih lebih
baik karena dia merupakan pemain Inggris jadi tekanan tidak terlalu besar. Tetapi tidak untuk Lucas, yang mengalami
hujatan paling menyedihkan. Lucas yang dibeli oleh Rafa Benitez
diagungkan akan jadi masa depan LFC, datang sebagai salah satu pemain
muda di Brazil. Para supporter pun berharap memiliki harapan besar
terhadap pemain Brazil yang biasanya memiliki skill yang mumpuni.
Tetapi Lucas adalah pemain yang berbeda dari kebanyakan pemain Brazil
yang ada.
Lucas bukanlah pemain
yang mempunyai “kecantikan” dalam tehnik, Lucas hanya memiliki
kelebihan dalam workrate. Tetapi supporter telah mempunyai harapan
terlalu tinggi terhadapnya (kepada pemain Brazil khususnya). Sebagai
pemain muda yang datang dari tanah Latin ke daratan eropa bukanlah
hal yang mudah, masalah bahasa, perubahan posisi dari yang semula
gelandang serang menjadi gelandang bertahan. Hujatan demi hujatan dia
terima jika dia pemain dengan “mental tempe” mungkin karirnya
sudah hancur melihat cercaan yang didapat.
Tetapi Lucas menolak
untuk menyerah ketika ada tawaran yang datang untuk keluar Inggris, Lucas
tidak mengambil kesempatan itu, dia memilih untuk bertahan di dalam
badai cercaan. Mungkin dia berpikir jika dia pergi sekarang,
selamanya kegagalan ini akan menghantuinya. Dia memilih untuk melihat
ketahanan mental nya menghadapi ini dan dia berhasil melewati
batasnya, Lucas menjadi salah satu pemain penting di LFC hingga saat
ini, mungkin masih banyak supporter yang menganggap Lucas sebagai
pemain tidak penting tetapi tidak bisa disanggah dia merupakan pemain
yang melakukan “kerja kotor” untuk LFC agar bisa meraih
kemenangan.
Lovren seharusnya bisa
belajar dari Lucas bagaimana dia tidak bisa menyerah sekarang. Dia
harus bertahan untuk belajar menghadapi tekanan dan cacian yang
sedang dihadapi, tetapi pilihan sekarang ada di tangannya sendiri
apakah dia mau menyerah dan pindah ataukah dia mau bertahan
untuk membuktikan bahwa mahar sebesar 20 Juta Poundsterling yang
diberikan LFC kepada Southampton itu bukanlah pembelian sia-sia..
Dear Dejan,
I know It's really hard when people who
should be your supporter turns their back on you..
Everyone blame you when you play on the
pitch..
Now it's your call to surrender or
fight for your pride..
Me personally would support every
player who wear LFC red shirt..
I would absolutely criticize you but I
wont slaughter you..
And it's you who decide how you end up
here..
Do you want to be remembered as player
who break their limit like Lucas did..
Or do you want to be remembered as a
player who have overprice player..
Wake up now!
#YNWA

No comments:
Post a Comment