Monday, March 2, 2015

Break the Limit

Seantero pendukung Liverpool FC pasti sangat mengenal nama Dejan Lovren, entah mungkin karena harga nya yang selangit atau kesalahan terbanyak di lini belakang LFC. Hampir tidak ada kalimat yang baik yang keluar dari pendukung LFC, mungkin hanya segelintir yang masih optimis terhadap karirnya di LFC, sisanya mungkin lebih kearah menghujat jika dia turun di lapangan. Memang stats penampilannya di LFC terbilang jeblok, banyaknya kesalahan yang dilakukan membuat Lovren menjadi sasaran empuk sebagai kambing hitam kekalahan maupun kesalahan.

Yang paling baru adalah kegagalannya mengeksekusi penalti di Europa League dan menyebabkan LFC tersingkir di ajang ini, kebanyakan suporter LFC langsung menunjuk telunjuknya ke hidung Lovren. Tragis memang kesalahan seluruh tim dibebankan ke pundak satu orang, mental Lovren saat itu pasti hancur berantakan. Pada saat dia sedang menjadi sorotan pada penampilannya dia harus menambah beban lagi menjadi algojo kelima di drama adu penalti.Secara keseluruhan penampilan LFC sebagai tim bisa dibilang buruk dan seharusnya seluruh kesalahan tidak dibebankan kepada satu pemain saja.



Cerita Lovren ini bukanlah pertama kali terjadi di LFC, Lucas Leiva dan Jordan Henderson adalah dua nama yang punya cerita tersendiri soal penghujatan pada awal karirnya di LFC. Jordan Henderson masih lebih baik karena dia merupakan pemain Inggris jadi tekanan tidak terlalu besar. Tetapi tidak untuk Lucas, yang mengalami hujatan paling menyedihkan. Lucas yang dibeli oleh Rafa Benitez diagungkan akan jadi masa depan LFC, datang sebagai salah satu pemain muda di Brazil. Para supporter pun berharap memiliki harapan besar terhadap pemain Brazil yang biasanya memiliki skill yang mumpuni. Tetapi Lucas adalah pemain yang berbeda dari kebanyakan pemain Brazil yang ada.

Lucas bukanlah pemain yang mempunyai “kecantikan” dalam tehnik, Lucas hanya memiliki kelebihan dalam workrate. Tetapi supporter telah mempunyai harapan terlalu tinggi terhadapnya (kepada pemain Brazil khususnya). Sebagai pemain muda yang datang dari tanah Latin ke daratan eropa bukanlah hal yang mudah, masalah bahasa, perubahan posisi dari yang semula gelandang serang menjadi gelandang bertahan. Hujatan demi hujatan dia terima jika dia pemain dengan “mental tempe” mungkin karirnya sudah hancur melihat cercaan yang didapat.



Tetapi Lucas menolak untuk menyerah ketika ada tawaran yang datang untuk keluar Inggris, Lucas tidak mengambil kesempatan itu, dia memilih untuk bertahan di dalam badai cercaan. Mungkin dia berpikir jika dia pergi sekarang, selamanya kegagalan ini akan menghantuinya. Dia memilih untuk melihat ketahanan mental nya menghadapi ini dan dia berhasil melewati batasnya, Lucas menjadi salah satu pemain penting di LFC hingga saat ini, mungkin masih banyak supporter yang menganggap Lucas sebagai pemain tidak penting tetapi tidak bisa disanggah dia merupakan pemain yang melakukan “kerja kotor” untuk LFC agar bisa meraih kemenangan.

Lovren seharusnya bisa belajar dari Lucas bagaimana dia tidak bisa menyerah sekarang. Dia harus bertahan untuk belajar menghadapi tekanan dan cacian yang sedang dihadapi, tetapi pilihan sekarang ada di tangannya sendiri apakah dia mau menyerah dan pindah ataukah dia mau bertahan untuk membuktikan bahwa mahar sebesar 20 Juta Poundsterling yang diberikan LFC kepada Southampton itu bukanlah pembelian sia-sia..

Dear Dejan,

I know It's really hard when people who should be your supporter turns their back on you..
Everyone blame you when you play on the pitch..
Now it's your call to surrender or fight for your pride..
Me personally would support every player who wear LFC red shirt..
I would absolutely criticize you but I wont slaughter you..

And it's you who decide how you end up here..
Do you want to be remembered as player who break their limit like Lucas did..
Or do you want to be remembered as a player who have overprice player..
Wake up now!

#YNWA

No comments:

Post a Comment