Saturday, September 26, 2015

The Unsung Hero


Sebenarnya artikel ini disiapkan jika Lucas dijual di musim panas lalu tapi karena tidak jadi di jual hope you enjoy it..

Ya Lucas adalah nama depannya, Pezzini nama tengahnya  dan Leiva merupakan nama belakangnya, didatangkan oleh Rafa Benitez ke LFC di tahun 2007 datang jauh dari Gremio klub dari negara  yang bisa dibilang negeri- nya dewa sepakbola, Brazil. Datang dengan label pemain muda berbakat di Negara-nya dengan harapan bisa mempunyai karir yang cemerlang di eropa, tetapi adaptasi lah yang memaksa Lucas muda berjuang benar-benar dari bawah di LFC. Perbedaan kultur sepakbola antara Amerika Latin dan Eropa ditambah dengan tugas baru dari Rafa Benitez yang melihat potensi-nya sebagai gelandang bertahan dimana berbeda dengan posisi yang biasa dia perankan yaitu gelandang serang seperti menambah beban-nya.


Sepertinya rintangannya tidak berhenti disitu, Lucas datang ke LFC di bawah bayang-bayang pemain yang bisa dibilang dua gelandang bertahan terbaik LFC di era modern, Xabi Alonso dan Javier Mascherano, dua pemain yang tidak tergantikan sebagai gerbang pertama dari pertahanan LFC saat itu. Lucas bukannya tidak mendapatkan kesempatan bermain, dia mendapatkan kesempatannya untuk membuktikan diri sebagai pemain muda yang dilabeli berbakat. Tetapi semua tidak berjalan sesuai rencananya, Lucas terlihat kikuk untuk menjalankan posisi baru nya, permainan tim terlihat buruk pada saat dia bermain, bahkan yang paling tragis adalah para supporter pun menganggap Lucas sebagai pemain buangan dan pemain yang tidak diharapkan ada di dalam tim.

Bagi seorang pemain sepakbola tidak ada dukungan dari suporternya sendiri mungkin merupakan saat yang paling buruk dalam bermain sepakbola bahkan sebagian supporter sempat melakukan “Boo”  kepadanya yang diakui oleh Lucas sendiri merupakan saat terberat dalam karir sepakbolanya. Lucas yang tidak mempunyai skill seperti kebanyakan pemain Brazil tidak menyerah saat itu, dia bisa saja meminta untuk di transfer keluar dari LFC di saat keadaan memburuk untuknya, tetapi tidak dia memilih untuk bertahan untuk membuktikan dirinya bahwa dia mempunyai mental seorang pemain sepakbola yang seharusnya.



Kesempatan itu pun datang saat Xabi Alonso pergi meninggalkan LFC ke Real Madrid, meninggalkan sepatu yang besar untuk seorang Lucas muda. But Yes What doesn’t kill you makes you stronger benar-benar dipahami oleh nya, segala perjuangannya mulai terlihat perlahan tetapi pasti Lucas menjadi pemain tidak tergantikan di lini tengah LFC baik di era Rafa Benitez maupun manajer selanjutnya semua berjalan baik untuknya dimana semua bisa melihat potensi apa yang Rafa lihat di awal kedatangannya. Tetapi apa yang sudah dicapainya hancur seketika saat cedera yang paling ditakuti oleh pemain bola datang menghampirinya, cedera ACL yang memaksa dia untuk beristirahat hampir 6 bulan dan pada musim itu pula Lucas gagal ikut mengangkat piala Carling yang dimenangi LFC.



Semenjak itu semua tidak pernah sama, penampilannya tidak pernah kembali mencapai level terbaik dimana dia pernah capai sebelum dia cedera ACL. Para pemain baru yang lebih muda dan berbakat pun datang ke LFC menambah kesulitan Lucas merebut kembali tempatnya di tim utama. Bursa transfer ini menarik beberapa klub besar mendapatkan jasanya dan mungkin ini lah kali terakhir Lucas ada di squad resmi LFC. Dia memang bukan idola supporter, hanya sedikit yang melihat bagaimana perjuangan besarnya di LFC. Tapi untuk gw pribadi Lucas Leiva merupakan salah satu pemain asing LFC yang perjuangannya menjadi inspirasi buat gw..

His First Name is Lucas, His second name is Leiva..
And that is why we like him..
In fact we fucking love him..


This video sum it all by El Alonso


Friday, June 5, 2015

Restart

Restart

Musim 14/15 sudah berakhir, bagi sebagian pendukung LFC itu berarti mimpi buruk telah berakhir. Selesai sudah melihat Tim yang mereka banggakan menjadi “Robin Hood” bagi tim papan bawah dan papan tengah. Mungkin sulit untuk mempercayai bagaimana dua musim lalu menjadi mimpi indah yang nyaris sempurna berubah menjadi mimpi buruk yang tidak memberikan ruang untuk bernafas pada saat menonton LFC bermain.

Dari yang semula melihat LFC selalu menyajikan banyak gol ke gawang lawan menjadi sarang gol bagi pemain lawan. Kejutan terjadi di penghujung musim lalu yang menjadi pukulan telak bagi LFC, dikoyak 6-1 oleh Stoke City menjadi puncak kesabaran bagi sebagian besar pendukung LFC terhadap Brendan Rodgers. Pelatih yang sempat dianggap akan menjadi legenda di LFC malah sukses menjadi bulan-bulanan para supporter LFC di media social.



Hanya tersisa sebagian kecil yang mungkin masih ingin memberinya kesempatan satu musim lagi. Sisanya menuntut John W. Henry dengan FSG nya untuk memecat Rodgers dengan segera, terlebih dengan menganggurnya dua nama besar seperti Jurgen Klopp dan Carlo Ancelotti yang dianggap mempunyai nama besar untuk menarik pemain besar pula walaupun LFC hanya bermain di “Liga Malam Jum’at” atau kompetisi kelas dua eropa.

Pengadilan Rodgers oleh FSG pun dilakukan pada tanggal 3 Mei 2015 Kemarin, sebagian besar supporter pun masih berharap akan adanya perubahan di kursi manajer LFC, tetapi FSG pun sudah mengeluarkan keputusan untuk tetap memberikan Rodgers kesempatan yang sangat mungkin menjadi kesempatan terakhirnya untuk membuat apapun yang salah di musim ini menjadi benar di musim depan.



Ditambah dengan keputusan Jurgen Klopp yang paling kencang dirumorkan mau rehat sejenak selama 6 bulan sebelum melatih lagi, entah ada hubungannya atau tidak tetapi dari kacamata FSG Rodgers dianggap masih mampu untuk menangani LFC di musim depan. Keputusan bulat telah diambil oleh FSG dengan demikian suka tidak suka supporter LFC harus terima hal tersebut.

Siapapun yang menjadi manajer yang LFC butuhkan sekarang adalah dukungan dari supporternya. Sekali lagi menaruh harapan di pundak Rodgers yang harus berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan kepercayaan dan dukungan supporter yang dulu pernah dia miliki, membuktikan dia merupakan manajer yang tepat untuk LFC dan membuktikan bahwa dia memang pelatih yang mempunyai kemampuan untuk membawa LFC ke tempat seharusnya. Good Luck then Boss!

I’m the type of supporter who will support LFC whoever the Manager is.. Yes I’m really tired to see LFC condition this season, I’m a supporter who used to believe you’re the one who will make LFC great once again but I’m also who calling for your head too when Stoke Tear LFC apart at the end of the season..

But FSG already made their decision to keep you, now our job is back to support the team whatever condition and whoever the Manager.


And for god sake boss please make this things right this time..

Monday, May 4, 2015

The Power of PHP

The Power of PHP

PHP atau pemberi harapan palsu kata yang sedang “hits” beberapa tahun belakangan ini, sepertinya jika dilihat dari sudut pandang pribadi dalam soal sepakbola mungkin yang paling mengerti soal ini adalah pendukung LFC. Setelah akhir musim lalu dengan melesetnya target yang di depan mata, awal musim yang sangat ditunggu-tunggu, hingga akhir musim yang menyisakan empat pertandingan ini, pendukung LFC tidak diberi nafas untuk bisa menerima kenyataan yang terjadi. PHP terus saja terjadi entah dari klub sendiri maupun dari klub Rival yang memperebutkan posisi empat besar.

Jujur saja setelah kekalahan melawan Hull City beberapa hari lalu, saya pribadi sudah terima apapun hasil akhir musim nanti bahkan sebagian hati sudah menyerah mendukung Brendan Rodgers. Tetapi ada kejadian yang membuat kejadian yang berpotensi menjadi PHP datang kembali. Rival terdekat LFC, Man Utd tersandung oleh West Brom. Secara tidak langsung membuat perasaan di hati ini kembali ke jarum optimis lagi setelah jarum indikator hampir menunjuk ke titik pesimis total.



Memang sebenarnya PHP ini bukan salah LFC ataupun klub lainnya, jika hati sudah menyerahkan apapun hasil musim ini harusnya sudah diteguhkan dan jangan berpindah lagi. Tetapi apa? Layaknya orang yang mencintai seseorang, sebanyak apapun disakiti dan dikecewakan jika ada jalan untuk mencintai kembali pasti akan di lakukan. Mungkin ada benarnya kutipan lama yang berbunyi “Bung jika ini memang cinta sejati pasti akan banyak rintangan”.

Kutipan yang lagi-lagi bisa dibilang pas jika dikaitkan kepada pendukung LFC. 25 Tahun sudah terlewat dari terakhir kali mengangkat gelar kampiun liga dan 10 Tahun dari final fenomenal di Istanbul. Tetapi pendukung LFC bukannya semakin sedikit tetapi malah semakin banyak yang awalnya saya pun tidak mengerti kenapa ada fenomena tersebut, padahal jika berkaca kepada diri sendiri mungkin teman-teman saya yang merupakan supporter tim lain akan bingung kenapa saya masih setia mendukung LFC yang jawabannya baru saya temukan akhir-akhir ini melalui artikel di salah satu blog tentang sepakbola.



Tetapi ya itu, mereka (Supporter tim lain) tidak akan pernah mengerti kebanggaan yang para pendukung LFC miliki. Walaupun kerap terkena PHP tetapi tetap saja pada saat LFC turun ke lapangan tetap ditonton minimal berharap LFC memenangkan pertandingan. Mungkin pada saat kondisi tim sekarang banyak silang pendapat dan malah mungkin terbagi menjadi kubu-kubu. Tetapi itulah indahnya para pendukung mencintai klub dengan caranya sendiri-sendiri.

Mungkin saja PHP akan datang lagi di akhir musim ini, tetapi ya perset*n lah dengan itu jika itu terjadi toh musim depan kami akan tetap memiliki harapan yang sama dan mungkin sebenarnya bukan salah LFC yang selalu melakukan PHP, tetapi dari diri pendukung mereka sendiri yang memilih untuk berharap. Toh apalah arti menunggu satu tahun lagi saya pribadi sudah menunggu kurang lebih 15 tahun.



So it's your call to manage your expectation or ready to feel the heartbreak once more?

Me personally I've never succeed to manage my expectation so I choose the second one..

Pic Courtesy:


Monday, April 6, 2015

Dia Yang Berharap Untuk Bertahan

Klub besar ya itulah LFC dimata para supporternya, Klub yang kami banggakan akan 18 gelar liga sebelum format baru dan 5 Juara Eropa, menjadi kebanggaan kami sebagai supporter salah satu klub merseyside. Di tahun 2005 kami diajak menyaksikan keajaiban dalam sepakbola yang bahkan menurut pengakuan beberapa supporter AC Milan kemenangan mereka atas LFC di tahun 2007 tetap tidak bisa membalas rasa sakit hati mereka di 2005.



Sebenernya artikel ini memiliki judul yang lebih panjang daripada yang tertulis diatas, judul yang seharusnya adalah “Dia yang berharap untuk bertahan dan Dia yang siap untuk pergi”. Ingatkah kita para supporter LFC siapakah satu-satunya pemain yang masih bertahan dari skuad yang menciptakan keajaiban? Ya, Steven George Gerrard. Satu-satu nya pahlawan Istanbul yang masih bertahan di LFC, pemain yang akan pergi di akhir musim ini, pemain yang bahkan oleh sebagian suporter LFC sendiri dianggap menjadi batu sandungan berkembangnya LFC ke depan.

Gerrard yang identik dengan LFC, yang bahkan mendapat gelar Mr. Liverpool ini akan mengakhiri karirnya yang luar biasa di LFC, dan akan segera berangkat ke Amerika untuk bergabung dengan salah satu mantan punggawa LFC yang hanya bermain setengah musim di Anfield, Robbie Keane. Dia yang berharap dipertahankan oleh klub yang membesarkannya, tetapi dia bisa membaca bahwa klub ini sudah merasa besar, bisa berjalan tanpa dirinya lagi dan sepertinya sudah siap ditinggal oleh nya.



Musim ini sendiri LFC mengalami musim Roller Coaster yang menakjubkan, terpuruk di awal musim, bangkit di tengah musim tetapi di dua pertandingan terakhir mengalami kekalahan yang sangat menyakitkan dari rival menuju empat besar. LFC digilas habis oleh Arsenal 4-1 yang dimana hampir membalaskan dendamnya musim lalu. Tim baru tanpa Gerrard memang sangat menjanjikan di masa depan dan kami para supporter pun yakin itu.

Tetapi apakah LFC “baru” ini sudah yakin bahwa tim ini bisa mengatasi tekanan mental pada saat melawan tim-tim besar tanpa para pemain seniornya. Ya, pengalaman memang bisa didapatkan melalui pertandingan di depannya tetapi pernahkah kita pernah mendengar kutipan “Pengalaman itu mahal” ?. Secara tidak langsung menunjukan LFC harus melalui beberapa musim lagi adaptasi. Jangan, jangan bilang kami suporter LFC tidak sabar, kami bahkan sangat sabar menunggu gelar tidak kunjung datang.

Yang terakhir sepeninggal Gerrard nanti adalah adakah “magnet” lain selain dia untuk menarik pemain dengan reputasi dunia untuk bergabung dengan LFC?. Fernando Torres dan Luis Suarez pun datang karena ingin bermain bersama Gerrard. Kepergian Gerrard merupakan suatu hal yang tidak mungkin terelakan dan mungkin pendiriannya sekarang sudah berubah dari pemain tidak ingin pergi menjadi pemain yang siap untuk pergi setelah mengetahui bahwa jasanya sudah tidak dibutuhkan lagi oleh klub yang membesarkannya.



Kami hanya bisa berharap bahwa pemain muda yang menjadi penerus dia, bisa menyerap sebanyak-banyak pengalaman yang dimilikinya. Sekaligus belajar mempunyai kesetiaan yang tidak banyak lagi dimiliki oleh para pemain muda sepakbola sekarang. Loyalitas yang hanya dimiliki oleh hanya beberapa pemain istimewa.

Dear Stevie,

Lot of sadness and Joy you gave to the club..
You give more than hundred percent everytime you step on the pitch..
You love this club that no one can imagine..
True that we'll never find a player like you..
Who play with every beat of his heart..
Player who never give up even on the darkest time..

I know you feel it's time to go now..
It's gonna be a sad day for Kopites to see you leave..
But always remember that we're gonna be your supporter now and then..

For the last time please share them a pride to wear our badge..
Share your lesson about loyalty..
Share you spirit to them who will continue the pride on our badge!


So long Hero!

Thursday, March 26, 2015

Coming Home!

Setiap manusia yang punya mimpi dan harapan pasti mengharapkan mimpi dan harapan nya jadi kenyataan, tetapi terkadang Tuhan berkata lain ada beberapa kutipan “Sesungguhnya  yang diinginkan manusia itu belum tentu baik untuk dirinya” tetapi terkadang manusia tidak bisa menerima begitu saja dengan apa yang sudah dituliskan untuk dirinya. Dengan tidak bermaksud menjadi terlalu serius di awal, jadi seperti biasa artikel ini pastinya berkaitan dengan Liverpool FC.

Berkaitan dengan Legenda LFC Steven Gerrard tetapi ini bukan mengenai kartu merahnya fenomenalnya di pertandingan sarat tensi melawan para Manch kemarin. Tetapi mengenai Testimonial Match yang akan digelar di jeda internasional besok. Para pemain sudah dipilih termasuk beberapa pemain kelas dunia yang pernah bermain bersama Gerrard. Tim Gerrard akan berhadapan dengan Tim Carra, dilihat dari Line up yang dipilih oleh Gerrard ada dua nama yang paling menarik, mimpi dari banyak kopites untuk melihat mereka bersanding.


Siapa yang tidak kenal Fernando Torres dan Luis Suarez? Dua nama fenomenal  yang pernah mengisi hati kopites dari seluruh dunia. Mimpi yang awalnya hampir jadi kenyataan di tahun 2010, melihat mereka menjadi “duet maut” di lini depan LFC saat itu. Bisa dipastikan jika duet itu menjadi kenyataan akan membuat para Back di BPL “ngompol” melihat mereka. Tetapi ya itu Tuhan menuliskan lain Dia bukan membuat mereka bersanding tetapi menggantikannya.

Buyar lah semua mimpi dan harapan para Kopites melihat dua penyerang kelas dunia mengobrak-abrik lini belakang lawan. Torres memilih hengkang ke klub kaya London tanpa memberitahukan alasannya hingga saat ini dan hasilnya transfer itu merupakan keuntungan besar bagi LFC tetapi menjadi akhir karir Torres, dia tidak pernah lagi menjadi Torres yang bermain di LFC dan mungkin keputusan tersebut merupakan penyesalan terbesar baginya.



Beda cerita dengan Suarez, dia datang dari Ajax sebagai pemain Kelas dunia sepaket dengan perangai yang bisa dibilang “luar biasa” sebelum pindah ke LFC dia sempat menggigit pemain lain di liga belanda dan menjalani skorsing, walaupun begitu dia tetap dipuja di Ajax dan LFC tetap yakin untuk memboyongnya ke Anfield. Beda dengan Torres yang jauh dari kata kontroversial di dalam lapangan. Suarez lebih meledak-ledak di dalam lapangan, tetapi hasilnya Suarez masih lebih dicinta oleh kopites dibanding Torres yang pergi dengan menyakitkan.

Harapan tetaplah harapan, sekali lagi mimpi dan harapan melihat mereka bersanding untuk pertama kali akan jadi kenyataan jika Torres dan Suarez tidak cedera hingga hari H Gerrard Testimonial Match. Satu mimpi yang akan tercapai walaupun bukan dalam pertandingan sesungguhnya tetapi buat saya pribadi dan mungkin beberapa kopites yang mempunyai cita-cita yang sama dengan saya sudah cukup bahagia melihat dua “mantan” pujaan berdiri di sisi yang sama, sisi dari Steven Gerrard.

Dear Stevie,

This match maybe the last one big testimonial for you
Make it worth every minute will ya..
Every big player would comeback for you..

Xabi , Torres and Suarez stand in one team, Your Team..
And Every another big player play in Carra’s Team..
Like your hope back in the day when there’s a chance they play with you in one team..

Hope this is would be special memory for you..

Remember Steve They Coming Back Home for you.. 

Goodluck Stevie Lad!

Monday, March 2, 2015

Break the Limit

Seantero pendukung Liverpool FC pasti sangat mengenal nama Dejan Lovren, entah mungkin karena harga nya yang selangit atau kesalahan terbanyak di lini belakang LFC. Hampir tidak ada kalimat yang baik yang keluar dari pendukung LFC, mungkin hanya segelintir yang masih optimis terhadap karirnya di LFC, sisanya mungkin lebih kearah menghujat jika dia turun di lapangan. Memang stats penampilannya di LFC terbilang jeblok, banyaknya kesalahan yang dilakukan membuat Lovren menjadi sasaran empuk sebagai kambing hitam kekalahan maupun kesalahan.

Yang paling baru adalah kegagalannya mengeksekusi penalti di Europa League dan menyebabkan LFC tersingkir di ajang ini, kebanyakan suporter LFC langsung menunjuk telunjuknya ke hidung Lovren. Tragis memang kesalahan seluruh tim dibebankan ke pundak satu orang, mental Lovren saat itu pasti hancur berantakan. Pada saat dia sedang menjadi sorotan pada penampilannya dia harus menambah beban lagi menjadi algojo kelima di drama adu penalti.Secara keseluruhan penampilan LFC sebagai tim bisa dibilang buruk dan seharusnya seluruh kesalahan tidak dibebankan kepada satu pemain saja.



Cerita Lovren ini bukanlah pertama kali terjadi di LFC, Lucas Leiva dan Jordan Henderson adalah dua nama yang punya cerita tersendiri soal penghujatan pada awal karirnya di LFC. Jordan Henderson masih lebih baik karena dia merupakan pemain Inggris jadi tekanan tidak terlalu besar. Tetapi tidak untuk Lucas, yang mengalami hujatan paling menyedihkan. Lucas yang dibeli oleh Rafa Benitez diagungkan akan jadi masa depan LFC, datang sebagai salah satu pemain muda di Brazil. Para supporter pun berharap memiliki harapan besar terhadap pemain Brazil yang biasanya memiliki skill yang mumpuni. Tetapi Lucas adalah pemain yang berbeda dari kebanyakan pemain Brazil yang ada.

Lucas bukanlah pemain yang mempunyai “kecantikan” dalam tehnik, Lucas hanya memiliki kelebihan dalam workrate. Tetapi supporter telah mempunyai harapan terlalu tinggi terhadapnya (kepada pemain Brazil khususnya). Sebagai pemain muda yang datang dari tanah Latin ke daratan eropa bukanlah hal yang mudah, masalah bahasa, perubahan posisi dari yang semula gelandang serang menjadi gelandang bertahan. Hujatan demi hujatan dia terima jika dia pemain dengan “mental tempe” mungkin karirnya sudah hancur melihat cercaan yang didapat.



Tetapi Lucas menolak untuk menyerah ketika ada tawaran yang datang untuk keluar Inggris, Lucas tidak mengambil kesempatan itu, dia memilih untuk bertahan di dalam badai cercaan. Mungkin dia berpikir jika dia pergi sekarang, selamanya kegagalan ini akan menghantuinya. Dia memilih untuk melihat ketahanan mental nya menghadapi ini dan dia berhasil melewati batasnya, Lucas menjadi salah satu pemain penting di LFC hingga saat ini, mungkin masih banyak supporter yang menganggap Lucas sebagai pemain tidak penting tetapi tidak bisa disanggah dia merupakan pemain yang melakukan “kerja kotor” untuk LFC agar bisa meraih kemenangan.

Lovren seharusnya bisa belajar dari Lucas bagaimana dia tidak bisa menyerah sekarang. Dia harus bertahan untuk belajar menghadapi tekanan dan cacian yang sedang dihadapi, tetapi pilihan sekarang ada di tangannya sendiri apakah dia mau menyerah dan pindah ataukah dia mau bertahan untuk membuktikan bahwa mahar sebesar 20 Juta Poundsterling yang diberikan LFC kepada Southampton itu bukanlah pembelian sia-sia..

Dear Dejan,

I know It's really hard when people who should be your supporter turns their back on you..
Everyone blame you when you play on the pitch..
Now it's your call to surrender or fight for your pride..
Me personally would support every player who wear LFC red shirt..
I would absolutely criticize you but I wont slaughter you..

And it's you who decide how you end up here..
Do you want to be remembered as player who break their limit like Lucas did..
Or do you want to be remembered as a player who have overprice player..
Wake up now!

#YNWA

Sunday, February 22, 2015

Akhir Cerita Cinta Pertama

Akhir Cerita Cinta Pertama

Bukan, bukan karena aku berhenti mencintainya tetapi karena ketiadaan daya dari dirinya untuk bangkit kembali dan bertahan bahkan hanya untuk bernafas. Sedih dan pedih terasa dihati melihat dia sekarat menunggu ajal, saat melihatnya terlintas kembali memori indah yang pernah dijalani saat-saat sulit yang dilalui hingga pada saat aku memutuskan untuk pindah ke lain hati. Dia memang sudah bukan lagi cinta ku lagi tetapi cinta pertama tetaplah cinta pertama akan selalu ada dihati sampai kapan pun.



Paragraf diatas bukanlah mengenai perjalanan kisah cinta seorang lelaki kepada wanita pujaannya, melainkan cinta seorang supporter sepakbola terhadap klub sepakbola pertama yang dia puja. Mungkin kisah cinta dia yang dulu tidak seindah yang sekarang, mungkin saja dia sudah bahagia dengan cintanya yang sekarang. Tetapi tetap saja jika melihat klub pertama yang dia puja sudah diujung akhir hidupnya pasti akan menyayat hatinya.

Parma FC nama klub nya. Klub yang dahulu terkenal menjadi pencetak pemain-pemain muda handal siapa tidak kenal nama Faustino Asprilla, Thomas Brolin, Hernan Crespo, Lilian Thuram hingga kiper veteran Juventus dan timnas Italia Gianluigi Buffon. Nama tersebut diatas hanyalah segelintir pemain dari beberapa punggawa Parma yang berhasil menembus pentas sepakbola dunia dan bermain di klub ternama di seluruh dunia.



Tidak banyak memang memori kemenangan yang dia dapat sebagai supporter sepakbola tetapi itulah yang membentuk mental dia sebagai Supporter agar bisa mendukung klub apapun keadaannya. Memori indah yang masih jelas teringat itu piala pertamanya sebagai pendukung Parma FC yaitu Juara Coppa Italia yang dilanjut dengan piala UEFA yang sekarang berubah format dan nama menjadi Europa League. Dia merengek ke ayahnya agar dibangunkan jam 2 pagi untuk menonton Parma yang dimana pada saat itu dia berumur 13 Tahun.

Tidak salah keputusan yang dia ambil karena Parma memenangkan Coppa Italia dan Piala UEFA tetapi yang paling teringat adalah hasil Piala UEFA dengan skor 3-0 untuk Parma dimana duet Hernan Crespo – Chiesa menjadi pahlawan ditambah dengan satu gol dari Paolo Vanoli menjadi momen bersejarahnya melihat tim yang dia puja memenangkan double winner pada tahun itu.



Sedangkan memori pahit yang dia pernah rasakan adalah bagaimana melihat Parma FC dibantai oleh Inter Milan yang sewaktu itu masih ada “Il Phenomenon” Ronaldo Luis Da Lima 5-1, pertama kali itu pula dia merasakan menangis karena Sepakbola dan yang paling pahit adalah merasakan bagaimana Parma FC terdegradasi yang membuat cinta nya berpaling dikarenakan tidak bisanya dia mengikut perkembangan Parma waktu itu dan dia berjanji bahwa di tanah Italia ada satu-satunya klub yang dia dukung.

Tetapi cerita indah tinggalah cerita, 100 tahun seharusnya menjadi umur dimana klub menjadi semakin kuat tetapi berita buruk itu datang pada tanggal 22 Februari 2015 Parma FC dinyatakan bangkrut dikarenakan ketidak sanggupannya menjalankan kompetisi hingga akhir, Parma FC otomatis degradasi hanya tinggal menunggu pengumuman dari FIGC dan pihak penyelenggara Serie A. Dia sedih mendengar berita ini, Cinta Pertamanya yang dulu sangat dia puja sekarat menunggu pertolongan yang tak kunjung datang. Mungkin cinta terbesarnya sudah berpaling kepada klub lain, tetapi Parma FC sebagai klub pujaannya menjadi cinta pertama yang tidak akan pernah terlupa olehnya.

Dear Gialloblu,

You might not be my Last love on Football Club..
But it hurts enough to see you dying..
All the good and sad memories you give me..
Makes me become a supporter that always support club no matter the condition is..

You absolutely have a special place in my heart as a football fans..
You are my first Love on football when all my friend choose other big club on that time..
But I choose you with no reason, I just Love you and it's grow bigger and bigger that time..

You might near an end but I still hope there would be a miracle to save you from bancruptcy..
A Miracle to make you back from the death and become stronger..
But I just want you to know that my hope and pray with you always..


#Non Mollare Mai #Parma Per Siempre!