Wednesday, November 5, 2014

The Storm is Coming (Again)

Awan hitam mulai menghinggapi lagi langit di Anfield setelah secercah langit emas hampir muncul musim lalu. Segala tawa dan nyanyian kemenangan musim lalu seolah berubah menjadi kemurungan, rasa pesimis serta hujatan di musim ini. BR yang di elu-elu kan sebagai “Bapak Perubahan” di musim lalu sekarang dianggap pesakitan dan sumber segala masalah yang terjadi di LFC, bahkan tidak sedikit yang menginginkan BR lengser dari kursi Manager LFC. Tetapi apakah itu menjadi sebuah solusi atas segala permasalahan yang ada?.

BR sudah memasuki musim ketiganya di LFC dan harusnya sudah ada dampak signifikan yang terlihat, musim lalu merupakan puncak penampilan terbaik LFC dalam kurun waktu beberapa tahun. BR berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik dari para pasukannya, tetapi pada musim ini sepeninggal Luis Suarez setengah jiwa LFC seperti hilang, ditambah dengan bertambahnya umur Steven Gerrard, mulai terlihatnya keletihan pada Raheem Sterling, Keroposnya lini belakang ditambah dengan musim ini LFC berpartisipasi di berbagai kompetisi yang menyebabkan kelelahan fisik & mental terlihat jelas.



LFC mulai terlihat kepayahan mengarungi musim ini terutama di Liga Inggris dan Liga Champion dua kompetisi major yang paling berpengaruh dalam hal prestis. BR seperti kehabisan ide untuk menyelesaikan satu persatu masalah yang ada di tubuh LFC, BR terkadang terlihat tidak percaya dengan permainan yang dimainkan tim nya, tidak ada lagi senyum lebar dan selebrasi sepenuh hati seperti musim lalu. Seakan dia mengerti ada masalah besar yang belum ditemukan solusi nya walaupun tim nya menang. Memang benar kemenangan di beberapa pertandingan terakhir lebih bisa dibilang sebagai keberuntungan bukannya hasil yang pantas di dapatkan.

Awan gelap memang sepertinya akan datang lagi jika BR tidak segera mencari jalan keluar dari masalahnya. BR harus menemukan strategi untuk memaksimalkan potensi dari Mario Balotelli atau bagaimana merekatkan lini belakang agar bisa konsentrasi selama 90 menit di setiap pertandingan. Ini memang bukan tugas yang mudah bagi BR, Tugas yang diemban dan tekanan yang dimiliki BR lebih besar dibandingkan waktu awal menukangi LFC. Cukup lelah memang jika harus melewati badai sekali lagi, tetapi pada saat ini LFC dan Rodgers membutuhkan dukungan dan doa dari supporternya agar bisa menemukan jalan keluar dan bangkit.



Semoga awan gelap yang akan segera datang ini hanyalah hujan deras biasa bukan lagi hujan badai yang pernah datang di medio 2009-2012 yang akan meluluh lantahkan pondasi yang sudah dibangun oleh BR di kurun waktu hampir 3 tahun ini.

Dear Boss,

I know it's not easy to manage a team as big as Liverpool
And I know some people calling for your head
You have big responsibilty and pressure to carry by yourself
Don't carried by yourself then share it to the team

Share it to the supporter, Maybe I don't understand how hard it is
But I Still believe you're the one who gonna make LFC great once again
I don't know about other Supporters boss, but what I do know
I do behind you a hundred fookin percent as long you're LFC Manager

So good luck boss find the solution and show to them who doubt you..

You'll Never Ever Walk Alone Boss!

Thursday, October 23, 2014

Call Me A Dreamer

Call me a dreamer..

“You may say I'm a dreamer. But I'm not the only one”
- John Winston Lennon-

Pemimpi, ya sebut saya seorang pemimpi yang memimpikan banyak hal yang belum tentu terjadi atau tidak di masa depan nanti, panggil saya seorang pemimpi yang selalu mengharapkan kesempurnaan di tengah ketidak sempurnaan, cap saya seorang pemimpi yang akan selalu berharap untuk mendapatkan terbaik atas semua harapan saya. Seorang pemimpi akan selamanya menjadi pemimpi tetapi apakah seorang pemimpi tidak boleh punya hak untuk bermimpi?.

Mimpi bisa membuat orang menjadi gila ataupun mimpi bisa menjadi sebuah harapan yang bisa menyelamatkan hidup. Tidak usah terlalu luas membahas tentang banyak mimpi di kehidupan saya seperti biasa saya akan mengerucutkan mimpi saya untuk satu klub yang saya puja yang jaraknya ribuan mil di tanah inggris sana. Ya, sebuah raksasa yang katanya sedang sakit & terluka, entah terluka dalam arti yang sebenernya atau terluka karena ditinggal pujaan hatinya. LFC namanya, setelah ditinggal sang pujaan hati masih belum mendapatkan pengganti yang sempurna yang mendekati dirinya tapi ya sudahlah semua sudah berakhir mengenai kisah cinta antara LFC dan si sang pujaan hati.



Yang menjadi pertanyaan bagaimana LFC bangkit dari keterpurukan ini?, bukan terpuruk dalam arti sebenarnya karena LFC pada saat artikel ini ditulis masih bertengger di posisi lima klasemen sementara, tidak begitu buruk untuk tim yang mentalnya sedang terpuruk bukan? Tetapi bagi supporter yang menjalani musim yang indah di musim lalu, musim ini terasa berat dengan penampilan bak mobil yang akan kehabisan bensin. Menang dengan keberuntungan yang di musim lalu hampir selalu supporter di sajikan “Goal Galore”, beda dengan musim ini yang sepertinya mencetak gol pun sulit.

Cederanya Sturridge menambah penderitaan supporter dengan menyisakan Balotelli, Borini, & Lambert di lini depan dimana ketiga striker diatas sama sekali belum menunjukan taji di musim ini belum lagi ditambah dengan rapuhnya lini belakang yang sebenarnya sudah ada dari musim lalu tetapi tidak begitu mencolok karena seringnya LFC mengadakan pesta Gol. Pada saat lini depan tumpul baru terlihat betapa rapuhnya lini belakang LFC.


Kembali kepada judul diatas mengenai pemimpi, saya pribadi mempunyai mimpi untuk LFC di musim ini walau sedang keadaan carut marut begini sepertinya ada sesuatu yang meyakinkan saya bahwa LFC would get this right on time in this season tidak akan terlalu lama berada dalam kondisi mental yang berantakan seperti ini, but they really need us to keep support and believe for them even it's really hard to do right now but if that could help i would do it..

Kembali lagi ke awal paragraf panggil saya seorang pemimpi tetapi saya yakin saya bukan satu-satunya orang bermimpi seperti ini, bukan satu-satunya orang yang memiliki keyakinan ini masih banyak supporter yang memiliki mimpi dan keyakinan ini dan hanya waktu yang akan menjawabnya. Orang tua sering bilang mimpi itu hampir sama dengan doa maka bermimpilah siapa tahu Tuhan sedang kebetulan melihat mimpimu dan sedang berbaik hati untuk mengabulkannya.



Dreamer..

We have no hope when our dream are dead
We lose a faith when our dream are shread
We died when our dream are shut

One of my dream are to see them stand strong once again
Now They struggle hard with all their problem
Would my dream for them died?
No, my dream still alive something telling me they would rise in the right time

Call me a dreamer as you like
I proud to be a dreamer who keep my dream alive..

#YNWA


@radya

Monday, September 29, 2014

T.R.L.N.J.R S.Y.G

Trlnjr Syng

Artikel ini Terinspirasi dari kaos PO dari akun @LFC_ID di twitter & Banner Legendaris di nonbar Jakarta akhir musim lalu yang ternyata memang berguna pada saat begini untuk mengingatkan bahwa tak pernah mudah menjadi supporter LFC. seakan-akan LFC tidak membiarkan para supporternya duduk manis dan tenang selama pertandingan, LFC terlihat menikmati membuat was-was supporter sepanjang pertandingan, membuat jantung orang yang menyayanginya kerap tidak berdetak normal. Tapi pertanyaannya kenapa Suppoternya tetap mencintainya?.

Sayang? Cinta? Kata-kata yang sulit untuk dimaknai dari satu sisi saja, karena perspektif setiap manusia pasti berbeda jika berhubungan dengan dua kata diatas. Ada pihak yang bilang bahwa dua kata itu adalah pengorbanan dan ada pula yang bilang bahwa dua kata itu sumber kebahagiaan atau bisa jadi keduanya. Yang manakah yang benar? Itu tergantung perspektif masing-masing. Tetapi jika disangkutkan kepada LFC manakah yang anda akan pilih apakah mendukung LFC adalah pengorbanan anda? ataukah sumber kebahagiaan anda?.



Mengingat musim lalu yang fantastis bisa dibilang para supporter LFC seharusnya sudah pada tahap LFC menjadi sumber kebahagiaan melihat fantastisnya LFC menutup musim lalu dengan melewati ekspektasi di awal musim dari finish di empat besar menjadi Runner Up, lalu awal musim ini pun tiba dengan perginya Luis Suarez yang sedikit banyak mencemaskan beberapa pihak karena seperti yang kita tahu jika Luis bersama Stu merupakan mesin goal LFC. Datangnya Balotelli membumbungkan harapan kembali bahwa Balo bisa menggantikan tempatnya Luis sebagai mesin goal LFC.



Beberapa pertandingan sudah dilewati tetapi LFC masih seperti mencari separuh jiwanya yang hilang yang membuat para supporternya seperti naik Roller Coaster yang dimana para supporter LFC sudah biasa mengendarainya. Tidak ada lagi pressure yang berlebihan kepada team kecuali dari beberapa pihak yang kritis. Kurangnya pressure ini mungkin dikarenakan apa yang LFC lakukan musim lalu masih membekas di hati para supporter.

Kembali ke topik awal soal “Sayang” & “Cinta” terkadang dua kata ini membutakan tidak lagi ada pemikiran rasional yang bisa dijadikan ukuran. Begitu pula sayang dan cinta supporter kepada LFC sudah sekian lama supporter LFC tidak merasakan namanya juara Premiership, sekian lama itu pula mereka merasakan naik turunnya performa. Tapi apa yang terjadi supporter LFC bukannya berkurang tetapi semakin berkembang lupakanlah soal juara UCL 9 Tahun silam.



9 tahun tanpa gelar major jika dipikirkan secara rasional seharusnya supporter LFC ini harusnya habis terkikis tetapi apa yang terjadi slogan yang para supporter kemukakan soal “We're not just a supporter but we're family” benar-benar diterapkan. Itulah yang mungkin arti “Sayang” & “Cinta” bagi supporter LFC. Terlanjur sayang & Terlanjur cinta yang membuat para Supporter tetap setia untuk mendukung walaupun tidak ada gelar major yang mampir ke Anfield..

Dear LFC,

We're support you with all of our heart all this years, every second that we've been through become a memory that we won't forget easily. Every emotions that we get everytime we watch you. Every tears of joy and sadness worth every drop.

Maybe this is the unconditional love from us to you, we pray for you to rise up and stand strong as a club that have a great supporter in the land. We're stand when it comes to bad and we'll stand by you until the time you become a great club once again..

Rise LFC!! Rise!!


Tuesday, September 9, 2014

Will To Stay

Will To Stay

Jendela transfer sudah ditutup, Liga pun sudah bergulir. Banyak cerita dari cerita transfer musim ini dari mega transfer, panic buying, hingga keduanya tidak usah lah membahas siapa. Tapi ada cerita menarik di cerita transfer ini khususnya di LFC dan pastinya kurang menarik bagi lainnya.

Nama Fabio Borini menjadi satu cerita khusus, dipinjamkan musim lalu ke Sunderland dan sukses untuk mengangkat namanya disana, sukses menjadi idola di klub berseragam strip merah putih yang terletak di kawasan Tyne and Wear.



Kembali ke LFC sebagai pemain muda terbaik di Sunderland membuat Borini berharap LFC mulai melirik dirinya lagi tapi apa daya tawaran yang datang dari Sunderland cukup membuat Ian Ayre bisa menjadi negosiator transfer yang ulung ditambah sebelumnya Ayre berhasil menjual Suarez dengan nilai fantastis dan sukses menjalankan proyek “Moneyball” FSG.

Para supporter pun rela melepas Borini dengan nilai sebesar 14 Juta Poundsterling karena sebagian besar mereka berpikir “We have stu and raheem plus a new boy Ballo” dan tawaran besar seperti ini tidak mampir di setiap jendela transfer, ditarik kebelakang lagi Borini di Sunderland menjadi New Golden Boy tapi bukan hanya di Sunderland saja karena Supporter LFC pun ikut bersorai jika dia mencetak goal terlebih Goal nya berhasil menjegal bahkan menenggelamkan salah satu rival LFC di perebutan gelar musim lalu.



Kembali ke masa kini, kesimpang-siuran transfer dari “The Knifeman” ini berlangsung alot hingga jendela transfer selesai, beberapa supporter bahkan kecewa dengan gagalnya transfer ini tetapi yang menarik adalah pernyataannya setelah jendela transfer ditutup sebagaimana dikutip sebagai berikut:

This summer there has been many rumours. My wish is to play in a top club and Liverpool are a top club so there have never been any real problems. I know my aims and how I can achieve them.

Staying at Liverpool is one of them. I’m in a big side who try to win each competition. And that is where I want to be.

There was no thought of whether to come back [to Italy] or not,” he added. “Because I grew in England I don’t think of it as to come back home, there isn’t a thought of it.”

Borini mau memperjuangkan tempatnya di LFC, dia bisa saja pindah ke Sunderland dan menjadi pujaan disana, dia bisa saja pulang kampung ke Italia karena dirumorkan bahwa ada tawaran dari Inter Milan dan melanjutkan ceritanya disana, tetapi tidak dia tidak takut dengan persaingan yang ada menjadi pilihan keempat sebenernya bukanlah pilihan untuk pemain muda yang sedang berkembang menjelang kematangan karirnya.



Mental tidak takut bersaing ini yang dimiliki oleh pemain muda seperti ini seharusnya bisa menjadi perhatian Rodgers karena pemain seperti ini jika diberi kesempatan tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya dan sudah pasti menciptakan kompetisi positif di lini depan agar tidak terlena jika sudah berada di posisi inti karena kapanpun bisa tergeser.

Dear Fabio,

Your will to stay and fight for your place and dignity would give fear to other striker if they can maintain their performance, your will to stay and fight would give a youngster learn to love LFC with all their heart, your will to stay would send a message to everyone in this planet that fight for your right and not to giving up to their dream is a must.

Fabio you're young and have a high workrate, I know Brendan know your skill and ability, your chance would come very soon. So don't you give up to it, show to them who underestimate you that you belong on the same player with other player to fight in the name of LFC..

So, as long you're bleed Liverpool FC red. We'll always support you everytime you touch the pitch!

#YNWA Fabio!

Tuesday, August 19, 2014

Belgian Wall!!

Belgian Wall!

Melihat pertandingan pertama di Liga Inggris banyak sorotan yang menunggu penampilan LFC, para pendukung menunggu apakah penampilan impresif LFC di akhir musim lalu akan berlanjut setelah perginya Suarez. Banyak orang yang mengatakan bahwa LFC merupakan “one man team”, tetapi pertandingan kemarin menunjukan bahwa meskipun agak berkurang kekuatan dalam penyerangan tetapi tertutup dengan penampilan gemilang dari Sturridge dan Sterling. Mereka mencetak dua goal kemenangan untuk LFC.

Di lini tengah yang paling menonjol terlihat adalah Jordan henderson yang bisa dibilang tidak kenal lelah dalam mengejar bola dan salah satu through pass nya memberikan assist kepada Sterling, Gerrard dan Lucas menjalani role sebagai benteng serangan pertama sebelum sampai ke lini belakang, walaupun masih agak terlihat rapuh dan sering tertembus tetapi setidaknya cukup untuk menahan serangan Soton.


Di lini belakang ada dua debutan di LFC yaitu Lovren dan Manquillo, pemain yang bisa dibilang bisa langsung “nyetel” dengan team dan walaupun tidak sempurna tetapi debutan ini mennyelesaikan pertandingan dengan baik dan banyak pundit yang bilang debut yang mengesankan terlebih untuk Manquillo.



Menilai hal diatas ada satu pemain yang penampilannya tidak bisa dikesampingkan sebagai “aktor” kemenangan juga untuk LFC, dia adalah Simon Mignolet kiper berkebangsaan Belgia yang entah berapa kali berjibaku jatuh bangun mengahadang serangan dari Soton malam itu, karena masih kurang terkoordinasinya lini belakang dari LFC yang ditempati beberapa muka baru membuat Mignolet bekerja lebih keras untuk menjaga gawangnya. Mignolet yang menjadi kiper kedua di timnas belgia setelah Courtois yang banyak orang bilang bahwa Mignolet ini bukan tipe “Sweeper Keeper” yang dibutuhkan untuk taktik yang lebih banyak memainkan permainan passing, tetapi tipe “Shot Stopper”.



Mignolet bisa dibilang tipe “Shot Stopper” yang mempunyai kemampuan untuk membaca bola dan refleks diatas rata-rata, seringkali Mignolet melakukan penyelamatan ajaib yang bisa menyelamatkan LFC dari kekalahan, tahun lalu pada saat LFC melawan stoke di pertandingan pertama musim lalu yang juga menjadi pertandingan debutnya (jika tidak salah ingat) di menit-menit akhir pertandingan saat itu LFC unggul 1-0 dan pada saat itu LFC kena hukuman penalty. Pada saat banyak supporter yang sudah pasrah, Mignolet melakukan penyelamatan yang juga memberikan kemenangan untuk LFC di pertandingan tersebut.



Tidak berbeda dengan pertandingan kemarin banyak penyelamatan Mignolet termasuk penyelamatan menit 88 yang sebenarnya hanya terkena sedikit dari jarinya tapi berhasil merubah sedikit jalannya bola menjadi kena mistar gawang dan bisa dipastikan pada saat hal itu terjadi seluruh supporter LFC yang menonton menahan nafas dengan jantung yang siap berhenti sejenak.

Dear Simon,

You might be in second line on your National Team, but here on LFC you're our hope, our big wall in front of the goal. Every breath that we hold when a shot strike to you i'm sure everyone pray that you would stop that strike.

Goalkeeper is a difficult position in football, you could stop 10 shot but you let 1 in then you could be a villain. But our hope wouldn't stop for you to get a clean sheet for your goal..

So stay sharp amigo!!

He's Big, He's Belgian, and He's our Keeper Simon Mignolet!!

Friday, August 1, 2014

Choose To Believe

Choose To Believe

Brendan Rodgers!
Brendan Rodgers!
Brendan Rodgers Liverpool
We're on our way to glory
Built the team like Shankly did
And kids will have a story...



Chant diatas tidak datang begitu saja dari supporter LFC di tanah Inggris khususnya di Liverpool untuk sang gaffer LFC, datang dengan filosofinya dan sempat diragukan bisa diterapkan di LFC karena hasil tahun pertamanya yang kurang memuaskan, tetapi dari tahun pertama itu terlihat bahwa skema dari Rodgers ini sudah mulai terbentuk arah dan tujuannya taktiknya meski masih banyak kekurangan khususnya pada penyelesaian akhir.

Tapi Rodgers datang bukan untuk menyerah dengan mudah, Rodgers datang untuk memperjuangkan filosofinya ditambah adanya dukungan dari John W Henry yang memberikan waktu beberapa tahun untuk Rodgers membentuk skema taktik yang diinginkan yang otomatis membuat kritik para “peragu” di kalangan pendukung LFC bagai “angin lalu” yang tidak perlu dihiraukan oleh Rodgers.



Pada tahun keduanya semuanya menjadi sedikit lebih mudah dengan adanya Luis Suarez yang membukukan 30 Gol musim lalu sekaligus menjadi striker paling produktif di Liga Inggris terlepas dari perangai kontroversialnya, siapapun pasti setuju bahwa Suarez menjadi pemain paling diandalkan oleh LFC sekaligus ditakuti para pemain bertahan di Liga Inggris.

Diharapkan akan bertahan di LFC untuk membantu melakukan perburuan gelar seperti musim lalu tetapi hati sang pemain berkata lain dia memilih untuk meninggalkan LFC dan berlabuh ke klub impiannya Barcelona tetapi tetap tidak bisa disangkal memang Suarez merupakan pemain controversial tetapi juga mempunyai sisi lain yang lembut dibuktikan Suarez tidak punya masalah dengan semua klub yang dia tinggalkan kecuali kekaguman dan kecintaan kepada dirinya, termasuk para LFC Supporter yang sangat terkesan dengan surat terakhir yang dibuat untuk mereka.

Tetapi disini lah masalah yang muncul akan perginya Suarez, apakah taktik Rodgers akan berjalan sama dengan musim lalu dimana Suarez sebagai pusat dan pemecah kebuntuan?, apakah  Rodgers akan menemukan striker dengan kualitas sepadan dengan Suarez sebagai pengganti?. Banyak pertanyaan yang muncul karena perginya Suarez ini ditambah Rodgers sampai saat ini belum memilih Marquee Player yang entah memang masih dalam perburuan atau tidak akan ada Marquee Player untuk LFC musim ini.

Datangnya pemain yang menurut beberapa kalangan supporter tidak akrab di telinga para penggila sepakbola dan dianggap sebagai pemain “kelas dua” karena tidak bermain di Tim Besar membuat muncul pertanyaan yang lebih banyak lagi, tapi Rodgers terkesan santai dan cukup puas dalam beberapa ujicoba, sebagian besar yang akan menjadi pemain utama musim depan mempunyai umur yang masih relative muda, mungkin supporter tidak melihat apa yang Rodgers lihat pada team yang sedang dibentuk olehnya.

Supporter sangat normal menginginkan pemain kelas dunia untuk menggantikan posisi Suarez yang memang tidak akan mudah untuk digantikan. Mungkin saja Rodgers sudah percaya dengan team mudanya yang juga dipastikan para supporter tidak akan cukup puas jika tidak adanya pemain kelas dunia yang akan masuk ke LFC atau mungkin akan ada transfer kejutan di akhir jendela transfer menjelang bergulirnya Liga.

Tetapi ada tidaknya Marquee Player di jendela transfer musim ini saya pribadi memutuskan untuk tetap percaya ke Rodgers yang bisa menyulap klub dari burung cantik yang kecantikannya tidak terlihat karena tidak adanya kepercayaan diri dari burung tersebut di awal kedatangannya menjadi burung yang sedikit demi sedikitnya namun pasti mengumpulkan kepercayaan dirinya untuk berani terbang tinggi di langit yang luas dimana banyak juga burung-burung cantik lainnya yang menjadi saingannya.



Dear Brendan Rodgers,

I know lot of people doubt your ability in the first place because you don’t came from a big club, but now little by little supporter try to believe what you want to build on LFC. Supporter start to appreciate what you’ve done in the club, you bring back a pride that we’ve been searching for.

Me personally really hope that you the one who will bring the good old days back, bring back the glory that we missed, bring back the passion to the supporter. I know LFC not the club that have a unlimited budget transfer that’s why I really hope you could be the “becareful chosen one” for LFC..

You have not only my trust but you have a trust from supporter that support you and who believe that you’ll make it on LFC.

All the best boss..

Monday, June 23, 2014

Sequel Cerita El Conejo

Luis Suarez yang sering juga dijuluki dengan El Conejo (Sang Kelinci) atau El Pistolero (Sang Penembak), Nama yang selalu menjadi favorit perbincangan para pencari berita. Pemain jenius yang juga mempunyai perangai yang unik, selalu dicintai oleh fans dari klub yang dibelanya dan selalu menjadi sasaran empuk untuk para media dan supporter lawan yang hampir selalu memilih berita miringnya daripada kejeneniusannya di atas lapangan hijau.



Tapi semua berubah semenjak Suarez menyelesaikan hukumannya atas tindakannya yang menggigit lengan bek Chelsea Ivanovic, Suarez menjadi pemain yang hampir tanpa cela di dalam maupun di luar lapangan hijau. Suarez tidak lagi menjadi pemain yang kontroversial, yang tersisa hanya kejeniusan nya dalam lapangan hijau. Tidak ada lagi yang bisa diangkat oleh media tentang kejelekannya mereka “dipaksa” untuk menulis berita Suarez yang cemerlang.

Suarez bukan lagi menjadi pemain yang merengek untuk keluar dari klub, Suarez menjadi pemain yang diidam-idamkan setiap klub untuk bermain untuk mereka, setiap supporter lawan pun pasti mengharapkan Suarez bergabung dengan tim kesayangan mereka. Tetapi Suarez masih bermain untuk LFC masih mempunyai kontrak panjang dengan klub yang baru mengikatnya dengan kontrak baru.



Beberapa hari lalu pertandingan Inggris melawan Uruguay di piala dunia digelar, Uruguay menjadi pemenang dan yang menjadi aktor nya adalah The One and Only Luis Suarez, pemain yang dulu selalu dihujat oleh media inggris, ya pemain yang menjadi aktor “antagonis” di media inggris benar-benar menendang Inggris keluar dari Piala Dunia dan seperti menuntaskan dendam kepada media inggris yang selalu memojokannya, What a sweet revenge for him.

Sampai hari ini Luis Suarez masih menjadi pemain LFC, ada sebagian supporter LFC yang mulai khawatir tentang masa depan Luis Suarez di LFC karena goalnya yang membuat Inggris tersingkir, tetapi mungkin bagi Suarez ini bukan suatu masalah selama fans LFC masih tetap dibelakangnya dan ya para pendukung LFC di inggris khususnya di kota Liverpool mungkin tidak terlalu kecewa dengan kekalahan inggris karena di timeline banyak beredar tagar #ScouseNotEnglish .



Di timeline pun banyak yang mempertanyakan apakah dia tidak takut akan kariernya di inggris habis karena goal dan selebrasi nya setelah mencetak goal melawan Inggris kemarin, Luis Suarez memang pemain Profesional yang bermain di Inggris tapi jangan tanyakan dia soal kecintaannya kepada negara nya. Di pertandingan kemarin dia dihadapkan pilihan yang sudah jelas jawabannya, dia mencetak goal, memenangkan negaranya dan bersiap untuk menghadapi badai kritik di media inggris sekembalinya dia ke inggris atau menyelesaikan tugasnya sebagai warga negara membela negaranya di lapangan hijau tanpa mementingkan konsekuensinya. 

Jawabannya sudah jelas dia teriakan di pertandingan kemarin, dia tentu saja memilih negaranya yang dia cinta dan bersiap menghadapi badai kritikan sesampainya kembali ke Inggris. Dia merupakan pahlawan di negaranya dan setiap pemain pasti ingin menjadi pahlawan bagi negaranya, tidak banyak orang yang bersedia untuk dihujat oleh dunia sepakbola agar negara nya sukses melaju ke babak selanjutnya.




Pertandingan kemarin tidak selesai hanya di lapangan hijau, babak baru tentang transfer Suarez merebak lagi dan tentu saja bagi media ini merupakan daging yang empuk untuk di santap. Luis Suarez mulai disangkutkan kembali kepada Real Madrid dan Barcelona, tentu saja lupakan Arsenal dan Man Utd yang juga berminat untuk dapatkan jasanya. Tetapi Suarez masih menjadi pemain LFC sang pemain pun masih tidak mau untuk berpusing-pusing untuk memikirkan tawaran yang datang sebelum piala dunia usai, yang menarik mari lihat akhir dari lanjutan dari cerita dari El Conejo di musim transfer setelah piala dunia.

Dear Luis,

You did great in your last match againts England, the media wouldn't stop to bothering you after this World Cup. We're LFC Fans will always behind you to support you and your family, we're always grateful that you choose LFC as your club. You give us a lot of joy and song about you to sing.

Apart from your choose in this transfer window, we wish you have a great career and it would be an honour for us if you choose to stay with us and watching you become a legend. I know exactly that no one bigger than the club but you also knew that you won't find another support like we did all these time when you through hard time in your career in England.

All the best Luis..

Monday, June 2, 2014

Welcome Home Scouse Boy!

Welcome Home Scouse Boy!

Kalimat pertama yang saya ucapkan di twitter pada saat transfer Rickie Lambert sudah 99% hampir rampung, hanya tinggal menunggu foto “nyender” dan mengangkat Scarf seperti para pemain lain yang baru masuk. Sebenarnya sebelum berita transfer Lambert menyeruak ke permukaan, saya hanya mengetahui Lambert merupakan supporter Liverpool dan tidak mengetahui lebih lanjut soal Lambert ini.



Pada saat berita transfer soal Lambert ini mulai kencang dan banyak yang komentar bahwa ini under radar dari para pemerhati transfer, baru saya mulai mencari tahu lebih lanjut soal Rickie Lambert ini, ternyata banyak hal yang masih luput dari perhatian saya, dari dimulainya karier sepakbolanya di sekolah sepakbola milik LFC di umur 10 Tahun dan pada 15 Tahun dia dilepas dikarenakan menurut pelatihnya saat itu dia tidak cukup baik untuk bermain di LFC, menurut Lambert sendiri hal itu merupakan pukulan keras pada saat itu.



Selepas dari LFC dia bermain di divisi bawah Liga Inggris bahkan kabarnya dia sempat menjadi buruh untuk menyambung hidup sebelum dia memutuskan kembali ke lapangan hijau lagi, memang jiwa seorang yang kuat harus belajar dari pelajaran yang sulit, sempat bermain di divisi bawah mengasah kemampuannya yang mana diakui olehnya itu merupakan hal yang sulit bermain di kasta bawah untuk pemain seumurnya waktu itu.

Setelah beberapa saat melanglang buana ke berbagai klub, Semua mulai berubah pada Lambert bermain di Southampton, Soton yang memulai dari League One pada saat Lambert masuk, perlahan mulai naik ke divisi atasnya sampai saat ini menjadi klub papan tengah di Liga Premier Inggris, nama Lambert mulai terdengar dikarenakan garangnya di depan gawang lawan. Bahkan LFC sendiri merasakan dibobol gawangnya pada saat mengalami kekalahan di kandang di musim ini.



Mulai dipanggil ke timnas inggris karena penampilan mengkilapnya, membuatnya tidak terlihat sombong dia tetap menyatakan semua merupakan kerjasama tim yang membuat dia sampai di titik ini. pemain yang sudah memasuki umur menjelang senja disepakbola dikagetkan dengan sebuah tawaran yang dia sangka tidak pernah akan datang di hidupnya, tawaran yang diimpikannya waktu dia masih bocah, tawaran untuk berdiri di dalam stadion yang paling dia idamkan, bermain di depan Supporter yang dimana semenjak kecil dia berada di dalamnya.

LFC dengan resmi mengontak agen dari Lambert, apakah pemainnya ingin bermain bersama LFC?, Lambert sendiri pada saat diberitahu oleh Agennya tidak percaya bahkan menuduh agennya berbohong, mungkin dia berpikir tawaran itu terlalu indah bahkan hanya untuk dibayangkan. Tetapi tawaran itu nyata, tawaran impian yang menurut dia terlalu indah itu datang, pada salah satu wawancara dengan media di mengatakan dia tidak berpikir dua kali untuk mengatakan ya pada tawaran dari LFC.

Pemain yang dianggap tidak cukup baik waktu muda oleh LFC, termotivasi dari penolakan menjadi pemain yang penting bagi klub-klub yang dibelanya, semoga saja ini menjadi akhir yang indah bagi Lambert di penghujung karirnya, mengakhiri karirnya di klub impiannya. Bahkan post istrinya di facebook yang bilang “We're Going Home” dan langsung dihapus tidak lama berselang. Pulang ke rumahnya, kembali ke klub pujaannya semenjak kecil, menuntaskan mimpinya untuk mencetak goal di depan The Kop. Good Luck Rickie!

Dear Rickie,

You've been through long and winding road to reach what you have now, we've proud to have you in LFC. A true Scouser and true Red, never give up on your dream even it's not an easy way to do. Your story teach young player not to give up easily on their dream. You show them if you hard enough to try, they could make their own story.


So Welcome Home Scouse Boy!

Tuesday, May 13, 2014

Wake Up and Proud

Wake Up and Proud

Selesai sudah musim yang indah ini, musim yang bisa dibilang paling mendekati dengan kesempurnaan dibanding musim-musim dalam beberapa tahun terakhir, Sayang memang mimpi terbesar kami tidak menjadi kenyataan. Tetapi biar bagaimanapun ada rasa yang tidak terjelaskan, ketakutan akan adanya rasa kecewa yang teramat besar tidak terjadi, si merah bertarung dengan gagah hingga akhir musim yang membuat kami bangga akan perjuangan mereka.

Di pertandingan terakhir kami menitikan air mata, bukan tentu saja bukan air mata kesedihan akan gagalnya LFC menjadi kampiun musim ini. Tetapi air mata bahagia melihat bahwa LFC telah berubah menjadi tim yang solid, yang kuat, yang disegani lagi di ranah inggris, melihat Anfield sekali lagi menjadi benteng yang kokoh yang membuat bergidik lawan-lawan yang datang, melihat para supporter kembali menemukan passion nya kembali.



Bohong jika kami tidak kecewa akan gagalnya LFC menjadi juara, kami kecewa tetapi rasa kecewa kami tertutupi dengan rasa bangga kami akan hasil yang di dapat oleh LFC musim ini. Kami bangga sudah berani bermimpi besar, berani untuk melawan ketakutan kami, berani untuk menyingkirkan rasa pesimis kami dan pada akhirnya kami berani berharap hingga pertandingan terakhir bahwa masih ada keajaiban untuk membalikan keadaan.

Tuhan memang berkata lain pada akhirnya, mimpi kami memang selesai di peluit akhir melawan Newcastle kemarin. Tapi rasa akan berani bermimpi tidak berakhir disini, kami akan bawa rasa berani ini untuk musim depan, musim yang akan lebih banyak rintangan, kami akan melakukan ini lagi di musim depan dengan harapan dan doa yang lebih besar lagi akan kami sertakan.



Dear LFC,

Thank You for a wonderful season you gave to us, this season maybe not ours but remember next season wait us with a bigger challenge to come.. this is not gonna be easy to do a same thing like this year, but don't worry about our support, we've been through a lot of dark days but you know what? we're still standing here to support you.

Chin Up, Head Up this season is over, bring this pride onto next season. Where the world gonna watching us again on Champions League.

#MakeUsProud once again after #MakeUsDream in this beautiful season..

Regards,


@Radya

Wednesday, May 7, 2014

This Is Final Stage!

This Is Final Stage!

Di pertandingan terakhir harapan kami para pendukung LFC benar-benar dihantam habis, kalah? Bukan cukup dengan hasil seri bisa menjatuhkan harapan kami untuk membuka puasa gelar yang sudah 24 tahun tidak dirasakan, tapi ada sesuatu yang lebih mematahkan hati dari hasil kemarin, melihat Steven Gerrard & Luis Suarez menangis dan melihat hampir seluruh pemain tertunduk lesu merasa tidak percaya akan hasil yang di dapat pada malam itu..



Memimpin 3-0 di hampir seluruh waktu pertandingan, tetapi apa yang terjadi membuat para pemain LFC dan kami pendukungnya menangis tak percaya bahwa keunggulan selama 80 menit disamakan dalam waktu 10 menit saja, Deja Vu? Ya pasti kita semua tahu kejadian apa yang membuat kita mengingat memori indah Istanbul 2005. Ya, tapi posisi kita ada di posisi AC Milan yang sudah unggul 3-0 dan disamakan menjadi 3-3.

Banyak teman-teman yang mengucapkan “It Ain't Over until It's Over” setelah pertandingan ini, memang sebagian dari kami mulai percaya bahwa tahun ini bukan tahunnya LFC untuk membuka puasa gelar, tapi sebagian dari kami masih tetap belum mau menyerah sampai pertandingan terakhir, karena secara matematika memang kesempatan LFC belum habis sampai di pertandingan terakhir.



Tetapi ada hal yang perlu diingat bahwa pertandingan di Istanbul tidak selesai sampai skor 3-3 masih ada perpanjangan waktu dan adu penalti. Kami berharap bahwa kondisi sekarang kami baru sampai di skor 3-3 masih ada perpanjangan waktu dan adu penalti, kami berharap LFC bisa kembali menjadi LFC di Istanbul bukan di sebagai AC Milan. Pertandingan ini belum berakhir masih ada 90 menit terakhir yang menentukan. Tidak, kami tidak mau menyerah sekarang.

Di Pertandingan Man City akan menghadapi Aston Villa & Westham, berharap kepada Aston Villa & Westham untuk menahan laju Man City diatas kertas memang mustahil, tetapi sepakbola lebih dari statistik diatas kertas, masih ada harapan, ada tweet di Twitter (@ConnorwilsonLFC) bilang “I bet no one can see Man City loosing points at home to West Ham or Villa. But I bet no one thought Sunderland would break Chelsea's record.” yah inilah sepakbola tidak semua hanya ada di atas kertas, ada beberapa faktor yang sedikit banyak mempengaruhi hasil di lapangan.



Dengan adanya fakta diatas kami tidak ingin menyerah sekarang, kami masih ingin bermimpi hingga pertandingan terakhir melawan Newcastle, kami ingin harapan ini terus ada hingga akhir musim ini terlepas hasil apa yang akan di dapat LFC nanti. Kami akan membuktikan bahwa rasa ini, rasa untuk mencintai klub ini, rasa untuk melawan ketakutan kami akan hasil nanti di akhir musim tidak akan sia-sia, kami akan membuktikan bahwa penggalan lagu YNWA “Walk on through the rain Tho' your dreams be tossed and blown“ itu benar adanya bahwa kami tidak akan berhenti walau mimpi kami hancur dan selesai tapi akan ada rasa bangga bahwa kami telah melakukan tugas kami hingga akhir.

We won't stop until it's over, some people might said we're a dreamer but we don't care, this our dream to support our Beloved team on Final Stage of this season.. Head Up!! All LFC Player & Staff have done an amazing work this season support them until it's over.. #YNWA


@Radya

Friday, May 2, 2014

We Believe

We Believe..

Kalimat yang simpel tapi mempunyai makna yang kuat, simpel karena semua orang punya hak untuk mengucapkannya tapi akan menjadi kuat saat orang yang mengucapkannya meyakini apa yang dia percaya. Banyak orang yang percaya dengan kekuatan kalimat ini, sebuah kalimat yang bisa membuat siapa yang mengucapkannya terbang tinggi atau jatuh terjerembab. Jika soal orang yang meyakininya terbang tinggi tentu tidak menjadi hal yang aneh.



Tetapi jika orang yang meyakininya itu jatuh dan terjerembab apakah sesuatu yang diyakininya itu salah? Tidak belum tentu salah ada banyak kemungkinan karena sepengetahuan saya yang masih dangkal ini Tuhan akan memberikan yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Klise? Tapi ya itu memang itu kenyataan yang terjadi di sekitar saya dan kita semua.

Yah pasti sebagian besar dari kalian tahu akan kemana arah artikel ini.. Tidak akan jauh dari klub yang saya kagumi LFC, di dua pertandingan terakhir makna kata “Percaya” ini bisa menjadi sangat kuat jika kita meyakini yang akan terjadi, meyakini bukan meng-ingin-i. Kita tentu tahu apa yang kita inginkan untuk LFC di dua pertandingan terakhir. Menang tentu saja dengan berharap tersandung nya dua rival terdekat LFC.



Mudah? Segera buang jauh-jauh pikiran itu, dua pertandingan terakhir ini tidak akan mudah, melawan Palace di kandang nya dan Newcastle di anfield, dua pertandingan krusial yang menentukan apakah kita menjadi yang pertama di pacuan ini atau tidak. Man City sudah jelas diatas angin yang kita harapkan menjadi bumerang bagi mereka jika mereka terlena, masalah mental tentu saja mereka sudah terasah mengingat beberapa musim lalu mereka menjadi contender atas Man Utd dan akhirnya mereka unggul selisih goal di akhir musim. Chelsea siap mengambil alih peringkat dua kita bila kita tersandung saat melawan Palace.

Tapi “percaya” itu yang membuat harapan itu tetap hidup dan berkobar di hati kita, siapkan lah hati kita untuk menghadapi apapun hasil musim ini. Para segenap elemen di LFC telah memberikan yang terbaik, tinggal kita para supporter untuk tetap nyalakan api percaya dalam hati kita, percaya bahwa gelar yang ditunggu itu akan datang. Selipkanlah doa kalian untuk LFC pada saat kalian beribadah apapun agama kalian. Karena mereka sudah berusaha, mari kita tambahkan dengan doa, dan kemudian berharap bahwa hal yang kita yakini ini bukan sekedar hanya sesuatu yang kita ingin-i.

They'll fight like lion and we'll sing like a riots.. Show them we're behind them a fookin hundred percent and more! Show them we're supporting them even we're hundred miles away from them..


@radya

Monday, April 28, 2014

We Refuse To Giving Up

We Refuse To Giving Up..

Setelah pertandingan tadi malam membuat Hampir hancur mimpi kami sebagai supporter LFC untuk mendapatkan gelar BPL setelah 24 tahun penantian.. Hampir lebur sudah mimpi kami setelah goal dari Demba Ba dan goal di akhir pertandingan oleh Willian.. Hal yang sudah lewat memang tidak bisa di putar kembali..



Tapi apakah kami akan menyerah atas mimpi kami yang sudah diberikan oleh #LFC sepanjang musim ini? Mungkin ada yang mulai “ikhlas” akan selesainya mimpi indah ini.. Tapi kami yakin bukan kami saja yang tidak akan mau menyerah dengan mudahnya untuk membiarkan mimpi ini hancur dan mati.. Tidak yang jelas tidak sekarang selama masih ada harapan walaupun itu sekecil lubang jarum..

Kami siap dibanting keras sebagai balasan atas kerasnya hati kami untuk tidak menyerahkan mimpi kami dengan mudah.. Kami masih mau bermimpi setidaknya sampai 2 pertandingan terakhir.. We're gonna stand until the end for our #LFC.. Mustahil kata mereka? Tidak bagi kami, mungkin hanya orang yang pernah merasakan keajaiban yang percaya adanya keajaiban. Kami pernah merasakan keajaiban dalam sepakbola dan kami masih mengharapkan adanya keajaiban itu datang lagi..



Target utama memang sudah di dapat, tapi sedekat ini dengan target bonus mungkin membuat harapan kami terbang tinggi hingga hampir tersadar saat dijatuhkan dengan sangat keras tadi malam, menyesal? Tentu tidak, tidak ada yang bilang konversi mimpi menjadi nyata ini akan mudah. Kami sadar cepat atau lambat akan menemui sandungan di perjalanan ini tapi kami masih merasa masih terlalu dini untuk menyerahkan mimpi kami sekarang..



Anything Possible for those who believe.. Kami tidak akan berhenti berharap karena keajaiban tidak akan pernah terjadi jika tidak adanya harapan.. LFC musim ini memberikan mimpi yang sama sekali tidak kami sangka akan datang secepat ini dan kami akan membalasnya dengan dukungan, harapan dan mimpi kami..

#MakeUsDream #WeGoAgain #KagokEdanJuaraSekalian bukan sembarang hashtag didalamnya ada jutaan doa dari para supporter #LFC termasuk doa dari kami untuk para punggawa #LFC sampai akhir musim..

Stand up and fight bravely our hero, until the last drop of your sweat and tears we'll stand beside you.. Thank you for what you've done for us this season.. Win or lose we'll always behind you until the end”

@Radya


Thursday, March 27, 2014

Last Salute From a Hero

Last Salute From a Hero

Steven Gerrard ya Steven Gerrard seorang pangeran dari Liverpool FC.. Banyak orang yang menyangka karirnya akan segera habis yah termasuk saya yang sempat menyinggung sedikit di beberapa artikel sebelumnya, tetapi sang pangeran belum mau menyerah untuk menyerahkan mahkotanya dengan mudah, dengan bantuan Brendan Rodgers sang pangeran menjelma menjadi seseorang yang baru di posisi nya yang baru.

Perubahan posisi dari yang sebelumnya bergerak lebih banyak di zona penyerangan sekarang berubah menjadi lebih banyak beroperasi di zona pertahanan tetapi tidak menghilangkan ciri khas “Hollywood Pass” miliknya, berhasil membuat SG “hidup kembali” di lapangan, menjadi pelapis para Wing Back yang terkadang sering lupa mundur saat maju ke depan.

Perlahan tapi pasti SG menjadi penjaga gerbang pertama sebelum mencapai lini pertahanan LFC bersama Allen atau Lucas. Penampilan ini jelas terlihat pada saat pertandingan melawan Man Utd menjadi pelapis yang baik untuk flano yang dimana kata teman saya seperti kakak yang menjaga adiknya dengan baik.

Dengan umurnya yang tidak muda lagi, lagi-lagi mungkin karena motivasi dari Brendan Rodgers  yang membuat SG nyaman di posisinya sekarang padahal pada awal menjalani posisi ini SG sempat tidak percaya diri menjalankan nya yang jika saya tidak salah ingat LFC mengalami kekalahan pada saat melawan Hull City yang dengan segera SG menyatakan jika posisi yang dilakukannya tidak begitu nyaman.


Tetapi mungkin memang bukan jiwa seorang kapten jika akan menyerah begitu saja ditambah juga mempunyai manager yang banyak orang menyebut mempunyai man management baik yang bisa memberikan motivasi dan kepercayaan diri untuk para pemain LFC.

Penampilan apik SG ini mungkin juga termotivasi dengan menanjaknya penampilan LFC dan bangkitnya para punggawa muda LFC, SG tetap menjadi pemimpin yang tidak tergantikan di lapangan ditambah besarnya kemungkinan LFC untuk bersaing bahkan merebut trophy yang paling dia idamkan selain piala dunia yaitu Gelar Premier League untuk pertama kalinya bagi LFC di penghujung karirnya, gelar yang akan melengkapi CV nya sebagai pemain bola pada umumnya dan LFC khususnya.


Menang atau tidaknya LFC di premier league musim ini, khususnya pendukung LFC sudah diberikan penampilan atraktif dari punggawa LFC yang dipimpin oleh SG dan menyaksikan bagaimana seorang pahlawan bertransformasi demi mempersembahkan gelar yang dia paling ingin didapatkan untuk klub yang dia cintai dan mungkin menjadi penghormatan terakhir untuk mendapatkan gelar yang paling ditunggu LFC di era Premier League dari sang pahlawan.

Dear Steven Gerrard,

All my pray and hope for you and the rest of LFC Team.. Win or Lose this season.. Me personally give thanks to all LFC Team for this great season you gave to us as Liverpool Supporter.
#YNWA

Regards,
@radya

Saturday, March 22, 2014

Am I Dare To Dream?

Am I Dare To Dream?

Pada beberapa artikel sebelum ini saya pernah menulis apa target untuk LFC tetep di empat besar atau berani bermimpi untuk menuntaskan puasa gelar yang sudah 20 tahun lebih tidak mampir ke Anfield.. Ternyata kita semua memang harus mengakui bahwa penampilan LFC sangat di atas rata-rata ini membuat beberapa pro dan kontra yang menarik di dunia “twitter” sedang hangat dibicarakan yang terbagi menjadi 3 kubu antara realis, pesimis, dan optimis di dalam suporter LFC sendiri (di Indonesia khususnya) di luar saya pun tidak mengerti apakah ada perdebatan soal ini.

Tidak terlepas dari paragraf diatas, saya pribadi memberanikan diri untuk menyebrang dari sisi realis menjadi sisi optimis dengan segala resiko yang akan timbul, dengan penampilan LFC yang sangat bila bisa dibilang luar biasa, melihat LFC menggetarkan gawang lawan lebih dari satu kali dalam pertandingan, melihat Anfield menjadi benteng yang menakutkan seperti jaman kejayaan LFC jaman yang sudah lama berlalu yang bahkan mungkin saya pun tidak pernah merasakannya, melihat para penantang juara mulai waspada akan hadirnya LFC, This is where we belong, we're already struggle for a long time for this and this time a good timing to finish it with style.




Keberanian saya tidak terlepas dengan adanya sosok Brendan Rodgers yang sempat juga saya tulis di artikel banyak orang yang meragukan kemampuannya di LFC apalagi dia “hanya” lulusan Swansea. Saya yakin bukan saya saja yang menjadi yakin karena adanya sosok BR ini, hanya lulusan Swansea dan sekarang dia mempunyai kesempatan untuk menjadi legenda di LFC jika BR bisa membawa LFC kembali ke tempat yang seharusnya.



Saya selalu terkesan dengan setiap wawancaranya dan beberapa kawan saya ada juga yang berpikir sebaliknya bahwa BR ini terlalu senang berbicara kepada Pers, tapi menurut saya setiap wawancara yang dilakukan oleh BR untuk meringankan beban para pemain LFC, jika kalah BR tidak menyalahkan pemainnya tetapi menyalahkan taktiknya, jika menang dia memuji habis pemainnya dan yang paling menarik jika ditanya soal perebutan gelar juara BR selalu merendah untuk melepaskan beban dari pemainnya.

Kembali ke judul diatas bahwa saya yakin bukan saya saja yang mulai berpikir dari kubu realis ke kubu optimis di dunia twitter pun banyak beredar tagar Make Us Dream dan di pertandingan terakhir melawan Manch saya melihat ada banner bertulisan Make Us Dream. Jadi akhir kata dalam artikel ini saya menegaskan bahwa berhasil atau tidaknya LFC menjuarai Premiership League LFC tetap menjadi juara hati saya pribadi sama seperti di musim-musim sebelumnya. So The Answer Yes I Choose Dare To Dream.



Dear Brendan Rodgers, Is It Our Dream is Your Reality? If It Is Yes Please Wake Us Up and Bring Us To Your Reality..

Regards,

@radya